NAMA:
Puja Barisman Putro
NPM:
16513941
KELAS:
3PA05
TERAPI
KELUARGA
1.
Pengertian Keluarga
Sebuah keluarga adalah sebuah sistem sosial yang
alami, dimana seseorang menyusun aturan, peran, struktur kekuasaan, bentuk
komunikasi, cara mendiskusikan pemecahan masalah sehingga dapat melaksanakan
berbagai kegiatan dengan lebih efektif.
Dalam penjelasan yang lain dikatakan bahwa keluarga adalah
suatu unit yang berfungsi sesuai atau tidak sesuai menurut tingkat persepsi
peran dan interaksi di antara kinerja peran dari macam-macam anggota.
2.
Sistem Keluarga
a. Struktural
Dapat dilihat sebagai dyadic yaitu subsistem suami
isteri, saudara kandung, dan anak dengan orang tua, dan tryadic yaitu subsistem
ibu-nenek anak perempuan atau ayah, kakek dan anak perempuan
b. Fungsional
Adalah bagaimana cara keluarga melindungi, merawat
dan mendidik anak. Bagaimana membuat lingkungan fisik, social dan ekonomi untuk
mendukung perkembangan individu, bagaimana menciptakan ikatan yang kuat dan terpelihara,
bagaimana orangtua mendidik anak supaya sukses dikehidupan dunia.
c. Developmental
Keluarga seperti individu, dimana dalam kehidupannya
berbagai tugas perkembangan harus dikuasai dan cara untuk beradaptasi harus selalu
disempurnakan.
3. Dinamika Keluarga
Untuk menjelaskan menganai dinamika keluarga
terdapat tiga teori yang menjelaskan dinamika keluarga yaitu: teori peran,
teori perkembangan dan teori system.
a. Teori Peran
Peran pokok dalam perkawinan menurut Parsons dan
Bales’s (1955) menyatakan adanya dua peran pokok dalam perkawinan, yaitu eksperimental
dan ekspresif. Peran instrumental adalah melakukan segala hal yang perlu dilakukan
yaitu mencari uang dan menjaga hubungan luar yang memuaskan dengan system ekonomi
dan system sekolah.
Peran ekspresif terutama memperhatikan hubungan yang
memuaskan di dalam keluarga dan ekspresi perasaan yang berhubungan dengan
hubungan yang intim. Pada keluarga modern peran-peran tersebut tidak dibagi
secara eksak antara suami dan isteri.
Dalam teori peran ada empat konsep dasar yang
merupakan dasar untuk mengerti kesehatan mental dan keluarga, yaitu:
1). Komplimentaris peran
yaitu anggota keluarga
melakukan peran yang berbeda, yang melengkapi satu sama lain dalam menyelesaikan
fungsi keluarga. Dengan ini kebutuhan keluarga dapat dipenuhi dengan cara yang
efisien, misalnya ayah mendengarkan keluhan anak-anaknya, ibunya membimbing
anak-anak dan memberi hukuman jika diperlukan.
2). Pertukaran peran
Pertukaran peran
mencakup anggota keluarga merespon permintaan-permintaan baru pada keluarga
dengan betukar peran, misalnya: anak gadis harus mengasuh adiknya karena ayah
ibunya harus bekerja dan akan bermasalah ketika dia belum mampu memenuhi
tuntutan tersebut.
3). Konflik peran
Konflik peran terjadi
ketika dua atau lebih anggota keluarga berselisih paham tentang suatu peran.
Contoh: ayah tiri mengambil tanggung jawab pendisiplinan, sedang istrinya
menganggap itu sebagai tugasnya
4). Kebalikan peran
Kebalikan peran
mencakup anggota keluarga sementara
memegang peran yang berlawanan
dengan peran-peran yang biasanya dilakukan. Contoh: anak
perempuan berangan apa yang sesuai untuk dilakukan
ibunya apabila anaknya
perempuan melanggar
aturan jam malam Dengan menilai peran keluarga, konselor dapat mengerti
dinamika keluarga dan dapat membimbing dengan intervensi yang paling sesuai
untuk meningkatkan berfungsinya keluarga.
b. Teori Perkembangan
Keluarga yang berhasil, berfungsi
dengan baik, bahagia, dan kuat tidak hanya
seimbang,
tetapi perhatian terhadap anggota keluarga yang lain, menggunakan waktu bersama-sama, memiliki pola komunikasi
yang baik, memiliki tingkat orientasi
yang tinggi terhadap agama, dan dapat menghadapi krisis dengan pola yang
positif.
Suatu krisis dapat mengganggu keseimbangan peran dan seberapa besar gangguan
itu tergantung pada tahap kehidupan keluarga
Krisis dalam keluarga dapat lebih dimengerti, apabila tiap tahap perkembangan keluarga diteliti, karena setiap tahap
mempunyai permintaan peran, tanggung
jawab, problem dan tantangan-tantangan sendiri-sendiri.
Tahapan perkembangan keluarga:
1. Keluarga baru.
2. Keluarga dengan anak.
3. Keluarga dengan balita..
4. Keluarga dengan anak sekolah.
5. Keluarga dengan anak remaja.
6. Keluarga sebagai pusat peluncuran.
7. Keluarga tahun-tahun tengah.
8. Pensiun.
c. Teori Sistem
Pada teori sistem terdapat beberapa asumsi-asumsi
inti mengenai yang dapat
menjelaskan
mengenai keluarga. Beberapa asumsi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perubahan dan stress anggota keluarga berpengaruh
terhadap seluruh
keluarga.
2.
Keluarga mempunyai pola interaksi yang mengatur tingkah laku anggotanya.
3. Simptom
fisik dan psikososial berkaitan dengan pola interaksi keluarga
4.Kemampuan
untuk menyesuaikan terhadap perubahan merupakan cirri berfungsinya keluarga
yang sehat. Dalam perubahan, fleksibilitas dan adaptibilitas keluarga harus diberi
tekanan.
5. Berbagi
tanggung jawab bersama.
6. Apabila
beberapa tingkah laku terus timbul dan terus ada, yang sangat menekan baik bagi
individunya atau bagi orang lain yang prihatin terhadap tingkah laku tersebut,
kalau tidak hati-hati tingkah laku yang lain mungkin terjadi di dalam sistem
interaksi, yang dapat menimbulkan dan mempertahankan tingkah laku yang bermasalah
tersebut, padahal seharusnya perlu ada usaha untuk memecahkannya.
Sistem keluarga yang disfungsional
memiliki 2 dimensi, yang masing-masing memiliki
4 tingkatan, yaitu : Family Cohesion (keterikatan emosional), terdiri dari rigid, structured, flexible, dan kacau; dan
Family Adaptability (kemampuan penyesuaian
terhadap perubahan), yang terdiri dari disengaged (lepas), separated (terpisah), connected (berhubungan), dan
enmeshed (terlibat). Bentuk sistem keluarga
tersusun dalam model Circumplex. Dimana masing-masing bentuk merupakan hasil interaksi dari
masing-masing tingkatan di antara kedua dimensi
tersebut. Bentuk-bentuk system keluarga tersebut akan dapat dikelompokkan dalam
tiga kategori, yaitu : seimbang, campuran, dan tidak seimbang. Kerangka
lain untuk mengerti dinamika keluarga adalah perbedaan-perbedaan
antara keluarga yang sehat dan keluarga yang tidak dapat berfungsi dengan baik.
TERAPI
KELUARGA
Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui
permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya.
Terapi keluarga dapat dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan
orang lain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat menyesuaikan,
terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda
Secara umum, tujuan family conseling/therapy adalah :
1. Membantu anggota keluarga untuk belajar dan secara
emosional menghargai bahwa dinamika
kelurga saling bertautan di antara anggota keluarga.
2. Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan
bila anggota keluarga mengalami problem,
maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau lebih persepsi, harapan, dan
interaksi dari anggota keluarga lainnya.
3. Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi
sampai dengan keseimbangan homeostasis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan
dan meningkatkan keutuhan keluarga.
4. Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak
relasi parental terhadap anggota keluarga (Perez, 1979).
Model
pendekatan baru yang dikembangkan dalam konseling keluarga yaitu:
1.
Multiple Family Therapy
Keluarga-keluarga
yang terpilih menemui konselor tiap minggu, dan pada waktu itu mereka menceritakan
problem mereka masing-masing dan membantu sesama dalam pemecahan persoalan
2.
Multiple impact Therapy
Mencakup
seluruh keluarga dalam sederetan interaksi yang berkelanjutan dengan konselor –
konselor komunitas yang multidisipliner mungkin selama dua hari. Terapi ini
mencakup pemberian konseling secara penuh selama dua hari atau lebih kepada
satu keluarga
3.
Terapi jaringan (Network Therapy)
Berusaha
memobilisasi sejumlah orang untuk berkumpul dalam suatu krisis untuk membentuk suatu
kekuatan terapeutik. Tujuan ini adalah untuk memperkuat kekuatan dari jaringan
yang dikumpulkan untuk memberi kesempatan untuk berubah di dalam sistem
keluarga tersebut
Secara
khusus, family conseling/therapy bertujuan untuk :
1. Membuat semua anggota keluarga dapat
mentoleransikan cara atau perilaku yang
unik (idiosyncratic) dari setiap anggota keluarga.
2. Menambah toleransi setiap anggota keluarga terhadap
frustrasi, ketika terjadi konflik dan kekecewaan, baik yang dialami bersama
keluarga atau tidak bersama keluarga.
3. Meningkatkan motivasi setiap anggota keluarga agar
mendukung, membesarkan hati, dan
mengembangkan anggota lainnya.
4. Membantu mencapai persepsi parental yang realistis
dan sesuai dengan persepsi anggota keluarga (Perez, 1979).
TEKNIK TERAPI KELUARGA/ FAMILY
THERAPY
1. Teknik Terapi Struktural
Dasar pemikiran
Suatu patologi keluarga muncul akibat dari
perkembangan rekasi yang disfungsional. Fungsi-fungsi
keluarga meliputi struktur keluarga, sub-systems dan keterikatannya. Peraturan-peraturan tertutup dan terbuka dan
hirarki-nya harus dimengerti dan dirubah
untuk membantu penyesuaian keluarga pada situasi yang baru.
a. Boundary-making
Boundary making adalah
teknik struktural, dimana fungsi-fungsi psikologis dan fisik diberi jarak dalam
sistem terapi keluarga yang kepentingannya sebagai proses diferensiasi.
Tujuannya adalah mengurangi keterlibatan “overinvolvement” dalam sistem
keluarga dengan kontruksi yang baru, batas fungsional antara sub sistem
keluarga. Terapis dapat membuat simbol batas
b. “boundaries”
dengan menyusun kembali tempat atau susunan dengan menggunakan gerak tangan
untuk memberhentikan atau memotong komentar.
2. Teknik Terapi Bowenian
Tujuan terapi adalah memaksimalkan diferensiasi diri
pada masing-masing anggota keluarga. Kerangka umumnya dari Bowen adalah mengutamakan
masa kini dan tetap memperhatikan latar belakang keluarga. Atauran dari
ketidaksadaran adalah konsep terkini yang menyatakan konflik yang tidak
disadari meskipun saat ini tampak pada masa interaktif. Fungsi utama dari terapis
adalah langsung tapi tidak konfrontasi dan dilihat melalui penyatuan keluarga. Bowen
mencoba menjembatani antara pendekatan yang berorientasi pada psikodinamika
yang menekankan pada perkembangan diri, isu-isu antar generasi dan peran-peran
masa lalu dengan pendekatan yang membatasi perhatian pada unit keluarga dan
pengaruhnya dimasa kini.
3. Teknik Terapi Psikodinamika
Tujuan: memahami dan menjelaskan
bagaimana dunia ketidaksadaran dalam diri individu terkait dengan konflik dalam
keluarga (Contoh: Oedipus dan Electra Complex) sistem dari kepribadian yang
saling berinteraksi
Tahap-tahap terapi:
- Mengorganisasikan
kepribadian setiap anggota keluarga (konflik intrapsikis, defense
mechanism, adanya masalah indv: phobia)
- Memahami
dinamika peran dalam keluarga à setiap anggota keluarga bert.l untuk
mencapai keseimbangan, sehingga tercapai perilaku yang adaptif
- Memahami
perilaku keluarga sebagai sistem sosial.
4. Teknik
Terapi Behavioral
Tujuan dari terapi behavioral adalah merubah konsekuaensi perilaku anatar
pribadi yang mengarah pada
penghilangan perilaku maladaptif atau problemnya. Kerangka umum dari pendekatan
behavioral adalah masa kini yang lebih memfokuskan pada lingkungan interpersonal
yang terpelihara dan muncul terus dalam pola perilaku terkini. Fungsi utama
dari terapis adalah direktif, mengarahkan, membimbing atau model dari perilaku
yang diinginkan dan negosiasi kontrak
Jenis terapi keluarga yang biasa digunakan dalam
pendekatan behavioral guna menyususn kembali sebuah keutuhan keluarga adalah:
a.
Behavioral marital therapy
b. Behavioral parent
training
-
Behavioral Exchange Interventions
Behavioral
Exchange Interventions digunakan untuk mengembangkan tingkah laku dan ganjaran
emosional dan mereduksi tingkah laku yang merugikan yang menyebabkan reaksi
yang segan dari partner
-
Establishment of a Baseline
Untuk
membangun garis bersa “baseline” frekuensi target behavior adalah mencatat asal
mula dalam sebuah perintah untuk mendeterminasi respons akibat intervensi
terapeutik
- Positif
Reinforcement
Penguatan
posistif mengacu pada pada penghargaan yang terjadi antara anggota keluarga dan
tingkah laku tersebut diapresiasi melalui pernyataanperbyataan keluarga
-
Negatif Reinforcement
Penguatan
negatif adalah serupa dengan penguatan posistif, tetapi penghargaan lebih
bersipat langsung,
-
Coercion and Punishment
Kekerasan
“Coercion” dan punishment dihubungkan dengan tipe interaksi, keadaan disfungsi
keluarga, dimana seseorang menggunakan sikap eversif “enggan” untuk mengontrol
anggota keluarga yang lain.
-
Contracting
Contracting
dihubungkan
untuk prosedur membuat kontak antara anggota keluarga dengan tujuan membuat
ketertarikan dalam berinteraksi. Dalam sebuah kepercayaann yang baik “good
faith” atau kontrak pararel, seseorang akan memproduksi tingkah laku secara
bebas terhadap anggota keluarga.
Dalam “quid pro quo contract, tingkah laku
anggota keluarga tergantung pada
tingkah
laku anggota lain
a.
Coaching
Coacing
dihubungkan
dengan ketetapan intruksi verbal oleh terapis, bagaimana untuk memotivasi
ketertarikan sebagai hasil dari interaksi. Sebagai contoh, seorang terapis
dapat melatih suami istri untuk bersikap lemah lembut terhadap partenernya ,ketertarikan
tingkah laku meskipun dalam posisi marah
b.
Modeling
Modeling
dihubungkan
terhadap penemuan tingkah laku baru dengan mengobservasi pertunjukan orang lain
sebagai hasil dari ganjaran. Modeling dapat memperkuat ketertarikan
tingkah laku atau kelemahan respon pembelajaran.
c.
Caring Days
Dalam
pendekatan caring days, keragaman identitas tingkah laku suami istri beserta
pasanganya; masing-masing pasangan kemudian berkomitmen untuk meningkatkan
frekuensi tingkah laku mereka dan ganjaran emosional dalam sebuah hubungan
d.
Loving Days
Dalam
pendekatan loving days, pasangan suami istri ditanya untuk memperluas
tingkah laku yang menyenangkan terhadap partener pada harihari khusus, sebagai
contoh membawa bunga atau memberikan ciuman
d.
Reciprocating
Reciprocating
dihubungkan
terhadap interaksi antara dua orang dimana ganjaran “reward” untuk dua kelompok
secara sejajar dalam waktu dan penguatan diri
e.
Token Economy
A
token Economy menggunakan penguatan sekunder,
masing-masing diawal dan akhir, sebagai ganjaran kesesuaian penampilan. Denda
diberikan sebagai tingkah laku yang tidak menarik.
f.
Functional Analysis
Teknik
analisis fungsional meruapkan studi tentang fungsi-fungsi simtom dalam sistem
keluarga. Tingkah laku simtomatik dalam anggota keluarga muncul dari ekpresi
diri atau sikap tertutup.
5. Teknik Terapi Komunikasi
Tujuan pendekatan komunikasi adalah mengubah
perilaku disfungsional dan rangkaian perilaku yang tidak diinginkan
antara anggota keluarga serta memperbanyak sekuensi perilaku diantara
anggota keluarga untuk mengurangi timbulnya masalah-masalah dan simptom
symptom kerangka umum dari pendekatan komunikasi adalah masa kini yaitu
problem terkini atau perilaku yang sedang terjadi berulang secara konsisten
atar individu. Fungsi dari terapis adalah aktif, manipulative, problem fokus, paradoksial
dan memberikan petunjuk.
6. Teknik Terapi Kontektual
a. Multidirected Partiality
Multi
directed partiality dihubungkan dengan keterbukaan terapis, sikap mendengarkan
dengan bujak terhadap masing-masing anggota keluarganya menyangkut kebutuhan,
dengan harapan masing-masing anggota keluarga berbicara serata hubungannnya
dengann yang lain. Multi directed partiality adalah hal yang vital dalam
pendekatan kontektual karena hal ini tertuju pada dimensi hubungan-hubungan
etik dan kejujuran kontek.
Menurut pendekatan kontektual, anggota keluarga
mengekpresikan masing-masing posisi mengenai keseimbangan dalam hal memberi dan
menerima. Tugas terapis adalah membantu masing-masing anggota keluarga termasuk
posisi dan kemudian melatih keseimbgnan yang terjadi
b. Therapeutik Contract
Kontrak
terapeutik dihubungkan dengan komitmen terapis untuk menyamakan treatmen individu
dalam hubungannya dnegan keluarga mereka. Keadilan adalah jaminan melalui
multidirected partiality
c. Invisible Loyalty Commitment in the Family
d. Exploring the Loyalti Contexs
Terapis mengeksplor pengaruh atau tidaknya dalam
keluarga dengan mendengarkan secara hati-hati sekaligus masukan yang dihadapkan
pada anggota lkeluarga kemudian mereka mengeksplor dalam posisi adil. Tujuannya
adalah untuk menghilangkan perasaan negatif.
Daftar Pustaka
Perez, Joseph F. (1979). Family Counseling : Theory and Practice .
New York,
Van Nostrand, Co.
David, H Olson, dkk, (2000). Empowering
Couples; Buliding or your strengths
Goldenberg, Irene & Goldenberg,
Herbert. (1985). Family Therapy: An Overview
Hershenson,
David B, Power, Paul W, Waldo Michael. (1996). Community
Conseling, Boston:
Allyn and Bacon.
Howard,
A.L, dkk, (2001). Family Psychology. Sciencebased intervention, APA;
Woshington DC.
Imbercoopersmith, Evan. (1985). Teaching Trainee To Think
In Triad. Journal of
Marital and Family Therapy, Vol.11,
No.1,61-66.
Hershenson, David B.; Power, Paul W.; & Waldo,
Michael. (1996). Community
Counseling,
Contemporer Theory and Practice.
Kendall, Philip C. & Norton-Ford, Julian.
Professional Dimension Scientific and
Professional Dimension. USA, John Willey
and Sons, Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar