Nama
: Puja Barisman Putro
Kelas:
3pa05
Npm:
16513941
Terapi
Kelompok
PENGERTIAN
Terapi kelompok adalah psikoterapi
yang dilakukan pada sekelompok klien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu
sama lain dipimpin oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang
terlatih.
Terapi kelompok adalah metode
pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga
yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri
(self-awareness). Peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi
yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang
terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal :
1. Kesadaran dan pengertian diri sendiri.
2. Memperbaiki hubungan interpersonal.
3. Perubahan tingkah laku.
TUJUAN
Secara umum terapi kelompok mempunyai beberapa tujuan,
diantaranya adalah
- Meningkatkan kemampuan uji realitas
- Membentuk sosialisasi
- Meningkatkan fungsi psikologis : meningkatkan
kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional dengan perilaku defensive
- Membangkitkan motivasi bagi kemampuan fungsi
kognitif dan afektif
Bentuk/
Jenis Terapi Kelompok
1.
Terapi kelompok suportif
merupakan
alternatif pilihan terapi yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan keluarga
menjadi sistem pendukung.
Terapi kelompok suportif terdiri dari 4
sesi (McCloskey dan Bulechek, 1996 dalam Stuart dan Laraia, 2008), meliputi
sesi 1 (identifikasi kemampuan keluarga dan sumber pendukung yang ada), sesi 2
(penggunaan sistem pendukung dalam keluarga, monitor, dan hambatannya), sesi 3
(penggunaan sistem pendukung di luar keluarga, monitor dan hambatannya), dan
sesi 4 (evaluasi hasil dan hambatan penggunaan sumber).
2. Kelompok terapeutik
Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi,
penyakit fisik krisis, tumbuh
kembang, atau penyesuaian sosial.
Tujuan Kelompok terapeutik:
a. Mencegah masalah kesehatan
b. Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok
c.
Meningkatkan kualitas kelompok, antara anggota kelompok saling membantu dalam
menyelesaikan masalah.
3. Kelompok eksplorasi interpersonal
Tujuannya adalah mengembangkan kesadaran diri tentang
gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari anggota kelompok
yang lain. Pasien diterima dan didukung oleh kerena itu, utuk meningkatkan
harga diri, tipe ini yang paling umum dilakukan
4. Terapi aktivitas kelompok
Kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu,
stimulasi presepsi, stimulasi sensoris, orientasi realita, dan sosialisasi
(keliat, 2005).
Pada terapi ini, seorang perawat spesialis yang
menjadi tropis dan enam sampai delapan orang bertemu secara teratur dengan
tujuan untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal
dan mengubah pola perilaku yang mal adaptif. Kemudian klien mempelajari
bagaimana membuat ekspresi perasaan yang sesuai dan menggali cara-cara untuk
meningkatkan pertumbuhan dan perubahan pribadi (copel, 2007).
Jenis-jenis Terapi Aktifitas
Kelompok
-
Stimulasi Kognitif / Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan
atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan
ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan
proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan
menjadi adaptif. Stimulus yang disediakan baca artikel / majalah / buku /
puisi, menonton acara TV, stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan
proses persepsi klien yang mel adaptif atau distruktif, mis: kemarahan,
kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain, dan halusinasi.
-
Stimulasi Sensoris
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori
klien. Kemudian diobservasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang
disediakan, berupa ekspresi perasaan secara non Verbal (ekspresi wajah, gerakan
tubuh). Biasanya klien tidak mau menggungkapkan komunikasi verbal akan
terstimulasi omosi dan perasaannya, serta menampilkan respon. Aktifitas yang
digunakan sebagai stimulus adalah : musik, seni, menyanyi, menari, jika hobi
klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai sebagai stimulus, misalnya lagi kesukaan klien, dapat
digunakan sebagai stimulus
-
Orientasi Realitas
Klien
diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar, yaitu diri sendiri, orang
lain yang di sekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien dan lingkungan
yang mempunyai hubungan dengan klien. Aktifitas berupa: orientasi orang, waktu,
tempat, benda yang ada disekitar, dan semua kondisi nyata.
5. Kelompok Bimbingan-Inspirasi
Kelompok
yang sangat terstruktur, kosesif, mendukung, yang meminimalkan pentingnya dan memaksimalkan
nilai diskusi didalam kelompok dan persahabatan. Kelompoknya mungkin saja besar,
anggota kelompok dipilih sering kali kerena mereka”mempunyai problem yang sama”.
6. Encounter Groups
Encounter Groups adalah bentuk-bentuk khusus dari
terapi kelompok yang muncul dari gerakan humanistic pada tahun 1960-an.
Encounter groups bertujuan untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan
berfokus pada bagaimana para anggota kelompok berhubungan satu sama lainalam
suatu situasi diaman di dorong untuk mengungkapkan perasaan secara terus
terang.
Encounter groups tidak berlaku bagi orang yang mengalami
masalah-masalah psikologis yang berat, tetapi hanya ditujukan kepada orang yang
dapat menyesuaikan diri dengan baik, berusaha memajukan pertumbuhan pribadi,
meningkatkan kesadaran mengenai kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan
mereka sendiri serta cara-cara mereka berhubungan dengan orang lain.
Encounter groups berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan
ini melalui pertemuan-pertemuan yang intensif atau konfrontasi-konfrontasi
langsung dengan orang-orang baru. Beberapa kelompok dibentuk sebagai kelompok-kelompok
marathon yang mungkin berlangsung terus-menerus selama 12 jam atau lebih.
Karena bertolak dari pendekatan humanistic, Encounter groups, menekankan
interaksi-interaksi yang terjadi ditempat ini dan kini.
Focus dari Encounter groups adalah mengungkapkan
perasaan-perasaan yang asli dan bukan menafsirkan atau membicarakan masa
lampau. Apabila seorang anggota kelompok dipersepsikan oleh orang lain
bersembunyi di belakang kedok atau topeng sosial, maka orang lain berusaha
sedemikian rupa supaya orang tersebut menyobek kedok itu, dan dengan demikian mendorong
orang itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang sebenarnya.
Teknik konfrontasi ini dapat merusak bila para anggota
kelompok memaksa mengungkapkan dengan terlalu cepat perasaan-perasaan pribadi
orang itu yang belum mampu ditanganinya atau bila orang itu merasa diserang
atau dikambinghitamkan oleh orang lain dalam kelompok. Para pemimpin kelompok
yang bertanggungjawab tetap berusaha mengendalikan kelompok itu untuk mencegah
penyalahgunaan tersebut dan mempertahankan kelompok itu bergerak kearah yang
memudahkan pertumbuhan pribadi dan kesadaran diri.
Proses Pelaksanaan
Proses terapi kelompok yaitu : Zastrow (1999)
1. Tahap Intake
Terjadi kontrak (persetujuan/komitmen) antara petugas kesehatan
dengan klien untuk melakukan kegiatan perubahan tingkah laku melalui
kelompok.Selain itu adanya kesadaran baik yang dihasilkan dari pengungkapan
masalah oleh klien sendiri atau berdasarkan penelaahan situasi oleh petugas
kesehatan.
2. Tahap Asesmen dan Perencanaaan Intervensi
Pemimpin kelompok bersama anggota kelompok
mengidentifikasi permasalahan, tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan
pemecahan masalah.
3. Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota harus dilakukan terhadap orang-orang
yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari struktur kelompok dan
keterlibatannya dalam kelompok.
4. Tahap Pengembangan Kelompok
5. Tahap penggantian, dimana orang-orang yang
sebenarnya menggantikan orang-orang yang dikhayalkan subjek.
6. Tahap penjernihan
Dimana diadakan pengalihan dari kontak
individu-individu pengganti ke kontak dengan individu-individu di mana subjek
memiliki kesempatan menyesuaikan diri dengan mereka dalam kehidupan yang nyata.
Sebaliknya, Whittaker memberikan suatu gambaran singkat tentang bagaimana
sebaiknya psikodrama itu dilaksanakan. Dia mengemukakan bahwa psikodrama
menggunakan 4 instrument utama, yaitu:
1. Panggung, yang merupakan ruang kehidupan psikologis
dan fisik bagi subjek atau
pasien.
2. Sutradara atau pekerja.
3. Staf dari ego-ego penolong (auxiliary ego) atau
penolong-penolong teraupetik.
4. Para penonton. Ego-ego penolong maupun para
penonton terdiri dari anggota-anggota kelompok lain. Strateginya adalah memberi
kemungkinan kepada subjek untuk memproyeksikan dirinya kedalam dunianya sendiri
dan membangkitkan respon-respon dari kawan-kawan anggota kelompoknya sendiri.
Selanjutnya, Whittaker mengemukakan 4 teknik yang bisa
digunakan, yaitu:
1. Presentasi diri.
Pasien mempresentasikan dirinya sendiri atau seorang
figur yang penting dalam kehidupannya.
2. Memimpin percakapan sendiri.
Pasien melangkah keluar dari drama dan berbicara pada dirinya
sendiri dan kepada kelompoknya.
3. Teknik ganda.
Seorang ego penolong berperan bersama dengan pasien
dan melakukan segala sesuatu yang dilakukan pasien pada waktu yang sama.
4. Teknik cermin.
Seorang ego penolong berperan sejelas mungkin
menggantikan pasien. Dari para penonton, pasien memperhatikan bagaimana dia
melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang lain melihatnya. Sutradara atau
pekerja berfungi baik sebagai produser maupun sebagai terapis. Sebagai
produser, ia memilih dan mengatur adegan-adegan yang
juga memimpin tindakan (perbuatan) psikodramatis. Adegan-adegan dipilih
berdasarkan situasi-situasi yang mengandung muatan emosional bagi pasien atau
berdasarkan situasi-situasi dimana pasien bertingkahlaku tidak tepat atau tidak
efektif dalam situasi-situasi seperti itu. Sebagai terapi, pekerja (sutradara)
memberikan dukungan atau klarifikasi kepada para actor, dan kadang-kadang
memberikan penafsiran (sering dengan bantuan para anggota kelompok lain)
tentang adegan permainana itu.
Belakangan ini psikodrama dilakukan oleh orang-orang
yang mempraktekkan bermacam-macam teori psikoterapi. Khususnya, para terapis
Gestalt menggunakan psikodrama secara luas. Psikodrama juga digunakan dalam
terapi perkawinan, dalam terapi anak-anak, penyalahgunana-penyalahgunaan obat
bius dan alcohol, orang-orang yang mengalami masalah-masalah emosional, di
lingkungan penjara, untuk melatih para psikiater dirumah sakit, untuk melatih orang-orang
yang cacat, di perusahaan dan industry, dan dalam pendidikan serta dalam mengambil
keputusan.
Kegunaan Psikodrama. Dengan mendramatisir
konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat
mengembangkan pemahaman (insight) baru yang memberinya kesanggupan untuk
mengubah perannya dalam kehidupan yang nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar