Rabu, 29 Juni 2016

Terapi Kelompok

Nama : Puja Barisman Putro
Kelas: 3pa05
Npm: 16513941

                                      Terapi Kelompok
PENGERTIAN
Terapi kelompok adalah psikoterapi yang dilakukan pada sekelompok klien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain dipimpin oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang terlatih.
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri (self-awareness). Peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal :
1. Kesadaran dan pengertian diri sendiri.
2. Memperbaiki hubungan interpersonal.
3. Perubahan tingkah laku.

TUJUAN
Secara umum terapi kelompok mempunyai beberapa tujuan, diantaranya adalah
- Meningkatkan kemampuan uji realitas
- Membentuk sosialisasi
- Meningkatkan fungsi psikologis : meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional dengan perilaku defensive
- Membangkitkan motivasi bagi kemampuan fungsi kognitif dan afektif

Bentuk/ Jenis Terapi Kelompok
1. Terapi kelompok suportif
merupakan alternatif pilihan terapi yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan keluarga menjadi sistem pendukung.
Terapi kelompok suportif terdiri dari 4 sesi (McCloskey dan Bulechek, 1996 dalam Stuart dan Laraia, 2008), meliputi sesi 1 (identifikasi kemampuan keluarga dan sumber pendukung yang ada), sesi 2 (penggunaan sistem pendukung dalam keluarga, monitor, dan hambatannya), sesi 3 (penggunaan sistem pendukung di luar keluarga, monitor dan hambatannya), dan sesi 4 (evaluasi hasil dan hambatan penggunaan sumber).
2. Kelompok terapeutik
Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik krisis, tumbuh
kembang, atau penyesuaian sosial.
Tujuan Kelompok terapeutik:
a. Mencegah masalah kesehatan
b. Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok
c. Meningkatkan kualitas kelompok, antara anggota kelompok saling membantu dalam menyelesaikan masalah.
3. Kelompok eksplorasi interpersonal
Tujuannya adalah mengembangkan kesadaran diri tentang gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari anggota kelompok yang lain. Pasien diterima dan didukung oleh kerena itu, utuk meningkatkan harga diri, tipe ini yang paling umum dilakukan
4. Terapi aktivitas kelompok
Kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu, stimulasi presepsi, stimulasi sensoris, orientasi realita, dan sosialisasi (keliat, 2005).
Pada terapi ini, seorang perawat spesialis yang menjadi tropis dan enam sampai delapan orang bertemu secara teratur dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan mengubah pola perilaku yang mal adaptif. Kemudian klien mempelajari bagaimana membuat ekspresi perasaan yang sesuai dan menggali cara-cara untuk meningkatkan pertumbuhan dan perubahan pribadi (copel, 2007).
Jenis-jenis Terapi Aktifitas Kelompok
-          Stimulasi Kognitif / Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi.  Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. Stimulus yang disediakan baca artikel / majalah / buku / puisi, menonton acara TV, stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang mel adaptif atau distruktif, mis: kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain, dan halusinasi.
-          Stimulasi Sensoris
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori klien. Kemudian diobservasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan secara non Verbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). Biasanya klien tidak mau menggungkapkan komunikasi verbal akan terstimulasi omosi dan perasaannya, serta menampilkan respon. Aktifitas yang digunakan sebagai stimulus adalah : musik, seni, menyanyi, menari, jika hobi klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai sebagai  stimulus, misalnya lagi kesukaan klien, dapat digunakan sebagai stimulus
-          Orientasi Realitas
Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar, yaitu diri sendiri, orang lain yang di sekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien dan lingkungan yang mempunyai hubungan dengan klien. Aktifitas berupa: orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar, dan semua kondisi nyata.
5. Kelompok Bimbingan-Inspirasi
Kelompok yang sangat terstruktur, kosesif, mendukung, yang meminimalkan pentingnya dan memaksimalkan nilai diskusi didalam kelompok dan persahabatan. Kelompoknya mungkin saja besar, anggota kelompok dipilih sering kali kerena mereka”mempunyai problem yang sama”.
6. Encounter Groups
Encounter Groups adalah bentuk-bentuk khusus dari terapi kelompok yang muncul dari gerakan humanistic pada tahun 1960-an. Encounter groups bertujuan untuk membantu mengembangkan kesadaran diri dengan berfokus pada bagaimana para anggota kelompok berhubungan satu sama lainalam suatu situasi diaman di dorong untuk mengungkapkan perasaan secara terus terang.
Encounter groups tidak berlaku bagi orang yang mengalami masalah-masalah psikologis yang berat, tetapi hanya ditujukan kepada orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, berusaha memajukan pertumbuhan pribadi, meningkatkan kesadaran mengenai kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan mereka sendiri serta cara-cara mereka berhubungan dengan orang lain.
Encounter groups berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini melalui pertemuan-pertemuan yang intensif atau konfrontasi-konfrontasi langsung dengan orang-orang baru. Beberapa kelompok dibentuk sebagai kelompok-kelompok marathon yang mungkin berlangsung terus-menerus selama 12 jam atau lebih. Karena bertolak dari pendekatan humanistic, Encounter groups, menekankan interaksi-interaksi yang terjadi ditempat ini dan kini.
Focus dari Encounter groups adalah mengungkapkan perasaan-perasaan yang asli dan bukan menafsirkan atau membicarakan masa lampau. Apabila seorang anggota kelompok dipersepsikan oleh orang lain bersembunyi di belakang kedok atau topeng sosial, maka orang lain berusaha sedemikian rupa supaya orang tersebut menyobek kedok itu, dan dengan demikian mendorong orang itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang sebenarnya.
Teknik konfrontasi ini dapat merusak bila para anggota kelompok memaksa mengungkapkan dengan terlalu cepat perasaan-perasaan pribadi orang itu yang belum mampu ditanganinya atau bila orang itu merasa diserang atau dikambinghitamkan oleh orang lain dalam kelompok. Para pemimpin kelompok yang bertanggungjawab tetap berusaha mengendalikan kelompok itu untuk mencegah penyalahgunaan tersebut dan mempertahankan kelompok itu bergerak kearah yang memudahkan pertumbuhan pribadi dan kesadaran diri.


Proses Pelaksanaan
Proses terapi kelompok yaitu : Zastrow (1999)
1. Tahap Intake
Terjadi kontrak (persetujuan/komitmen) antara petugas kesehatan dengan klien untuk melakukan kegiatan perubahan tingkah laku melalui kelompok.Selain itu adanya kesadaran baik yang dihasilkan dari pengungkapan masalah oleh klien sendiri atau berdasarkan penelaahan situasi oleh petugas kesehatan.
2. Tahap Asesmen dan Perencanaaan Intervensi
Pemimpin kelompok bersama anggota kelompok mengidentifikasi permasalahan, tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah.
3. Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari struktur kelompok dan keterlibatannya dalam kelompok.
4. Tahap Pengembangan Kelompok
5. Tahap penggantian, dimana orang-orang yang sebenarnya menggantikan orang-orang yang dikhayalkan subjek.
6. Tahap penjernihan
Dimana diadakan pengalihan dari kontak individu-individu pengganti ke kontak dengan individu-individu di mana subjek memiliki kesempatan menyesuaikan diri dengan mereka dalam kehidupan yang nyata. Sebaliknya, Whittaker memberikan suatu gambaran singkat tentang bagaimana sebaiknya psikodrama itu dilaksanakan. Dia mengemukakan bahwa psikodrama menggunakan 4 instrument utama, yaitu:
1. Panggung, yang merupakan ruang kehidupan psikologis dan fisik bagi subjek atau
pasien.
2. Sutradara atau pekerja.
3. Staf dari ego-ego penolong (auxiliary ego) atau penolong-penolong teraupetik.
4. Para penonton. Ego-ego penolong maupun para penonton terdiri dari anggota-anggota kelompok lain. Strateginya adalah memberi kemungkinan kepada subjek untuk memproyeksikan dirinya kedalam dunianya sendiri dan membangkitkan respon-respon dari kawan-kawan anggota kelompoknya sendiri.
Selanjutnya, Whittaker mengemukakan 4 teknik yang bisa digunakan, yaitu:
1. Presentasi diri.
Pasien mempresentasikan dirinya sendiri atau seorang figur yang penting dalam kehidupannya.
2. Memimpin percakapan sendiri.
Pasien melangkah keluar dari drama dan berbicara pada dirinya sendiri dan kepada kelompoknya.
3. Teknik ganda.
Seorang ego penolong berperan bersama dengan pasien dan melakukan segala sesuatu yang dilakukan pasien pada waktu yang sama.
4. Teknik cermin.
Seorang ego penolong berperan sejelas mungkin menggantikan pasien. Dari para penonton, pasien memperhatikan bagaimana dia melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang lain melihatnya. Sutradara atau pekerja berfungi baik sebagai produser maupun sebagai terapis. Sebagai
produser, ia memilih dan mengatur adegan-adegan yang juga memimpin tindakan (perbuatan) psikodramatis. Adegan-adegan dipilih berdasarkan situasi-situasi yang mengandung muatan emosional bagi pasien atau berdasarkan situasi-situasi dimana pasien bertingkahlaku tidak tepat atau tidak efektif dalam situasi-situasi seperti itu. Sebagai terapi, pekerja (sutradara) memberikan dukungan atau klarifikasi kepada para actor, dan kadang-kadang memberikan penafsiran (sering dengan bantuan para anggota kelompok lain) tentang adegan permainana itu.
Belakangan ini psikodrama dilakukan oleh orang-orang yang mempraktekkan bermacam-macam teori psikoterapi. Khususnya, para terapis Gestalt menggunakan psikodrama secara luas. Psikodrama juga digunakan dalam terapi perkawinan, dalam terapi anak-anak, penyalahgunana-penyalahgunaan obat bius dan alcohol, orang-orang yang mengalami masalah-masalah emosional, di lingkungan penjara, untuk melatih para psikiater dirumah sakit, untuk melatih orang-orang yang cacat, di perusahaan dan industry, dan dalam pendidikan serta dalam mengambil keputusan.
Kegunaan Psikodrama. Dengan mendramatisir konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat mengembangkan pemahaman (insight) baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan yang nyata.


Terapi Keluarga

NAMA: Puja Barisman Putro
NPM: 16513941
KELAS: 3PA05



TERAPI KELUARGA

1. Pengertian Keluarga
Sebuah keluarga adalah sebuah sistem sosial yang alami, dimana seseorang menyusun aturan, peran, struktur kekuasaan, bentuk komunikasi, cara mendiskusikan pemecahan masalah sehingga dapat melaksanakan berbagai kegiatan dengan lebih efektif.
Dalam penjelasan yang lain dikatakan bahwa keluarga adalah suatu unit yang berfungsi sesuai atau tidak sesuai menurut tingkat persepsi peran dan interaksi di antara kinerja peran dari macam-macam anggota.

2. Sistem Keluarga
a. Struktural
Dapat dilihat sebagai dyadic yaitu subsistem suami isteri, saudara kandung, dan anak dengan orang tua, dan tryadic yaitu subsistem ibu-nenek anak perempuan atau ayah, kakek dan anak perempuan

b. Fungsional
Adalah bagaimana cara keluarga melindungi, merawat dan mendidik anak. Bagaimana membuat lingkungan fisik, social dan ekonomi untuk mendukung perkembangan individu, bagaimana menciptakan ikatan yang kuat dan terpelihara, bagaimana orangtua mendidik anak supaya sukses dikehidupan dunia.

c. Developmental
Keluarga seperti individu, dimana dalam kehidupannya berbagai tugas perkembangan harus dikuasai dan cara untuk beradaptasi harus selalu disempurnakan.


3. Dinamika Keluarga
Untuk menjelaskan menganai dinamika keluarga terdapat tiga teori yang menjelaskan dinamika keluarga yaitu: teori peran, teori perkembangan dan teori system.
a. Teori Peran
Peran pokok dalam perkawinan menurut Parsons dan Bales’s (1955) menyatakan adanya dua peran pokok dalam perkawinan, yaitu eksperimental dan ekspresif. Peran instrumental adalah melakukan segala hal yang perlu dilakukan yaitu mencari uang dan menjaga hubungan luar yang memuaskan dengan system ekonomi dan system sekolah.
Peran ekspresif terutama memperhatikan hubungan yang memuaskan di dalam keluarga dan ekspresi perasaan yang berhubungan dengan hubungan yang intim. Pada keluarga modern peran-peran tersebut tidak dibagi secara eksak antara suami dan isteri.
Dalam teori peran ada empat konsep dasar yang merupakan dasar untuk mengerti kesehatan mental dan keluarga, yaitu:
1). Komplimentaris peran
yaitu anggota keluarga melakukan peran yang berbeda, yang melengkapi satu sama lain dalam menyelesaikan fungsi keluarga. Dengan ini kebutuhan keluarga dapat dipenuhi dengan cara yang efisien, misalnya ayah mendengarkan keluhan anak-anaknya, ibunya membimbing anak-anak dan memberi hukuman jika diperlukan.
2). Pertukaran peran
Pertukaran peran mencakup anggota keluarga merespon permintaan-permintaan baru pada keluarga dengan betukar peran, misalnya: anak gadis harus mengasuh adiknya karena ayah ibunya harus bekerja dan akan bermasalah ketika dia belum mampu memenuhi tuntutan tersebut.
3). Konflik peran
Konflik peran terjadi ketika dua atau lebih anggota keluarga berselisih paham tentang suatu peran. Contoh: ayah tiri mengambil tanggung jawab pendisiplinan, sedang istrinya menganggap itu sebagai tugasnya
4). Kebalikan peran
Kebalikan peran mencakup anggota keluarga sementara memegang peran yang berlawanan dengan peran-peran yang biasanya dilakukan. Contoh: anak
perempuan berangan apa yang sesuai untuk dilakukan ibunya apabila anaknya
perempuan melanggar aturan jam malam Dengan menilai peran keluarga, konselor dapat mengerti dinamika keluarga dan dapat membimbing dengan intervensi yang paling sesuai untuk meningkatkan berfungsinya keluarga.

            b. Teori Perkembangan
Keluarga yang berhasil, berfungsi dengan baik, bahagia, dan kuat tidak hanya
seimbang, tetapi perhatian terhadap anggota keluarga yang lain, menggunakan  waktu bersama-sama, memiliki pola komunikasi yang baik, memiliki tingkat orientasi  yang tinggi terhadap agama, dan dapat menghadapi krisis dengan pola yang positif. Suatu krisis dapat mengganggu keseimbangan peran dan seberapa besar gangguan itu tergantung pada tahap kehidupan keluarga  Krisis dalam keluarga dapat lebih dimengerti, apabila tiap tahap perkembangan  keluarga diteliti, karena setiap tahap mempunyai permintaan peran, tanggung  jawab, problem dan tantangan-tantangan sendiri-sendiri.
Tahapan perkembangan keluarga:
1. Keluarga baru.
2. Keluarga dengan anak.
3. Keluarga dengan balita..
4. Keluarga dengan anak sekolah.
5. Keluarga dengan anak remaja.
6. Keluarga sebagai pusat peluncuran.
7. Keluarga tahun-tahun tengah.
8. Pensiun.

            c. Teori Sistem
Pada teori sistem terdapat beberapa asumsi-asumsi inti mengenai yang dapat
menjelaskan mengenai keluarga. Beberapa asumsi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perubahan dan stress anggota keluarga berpengaruh terhadap seluruh
keluarga.
2. Keluarga mempunyai pola interaksi yang mengatur tingkah laku anggotanya.
3. Simptom fisik dan psikososial berkaitan dengan pola interaksi keluarga
4.Kemampuan untuk menyesuaikan terhadap perubahan merupakan cirri berfungsinya keluarga yang sehat. Dalam perubahan, fleksibilitas dan adaptibilitas keluarga harus diberi tekanan.
5. Berbagi tanggung jawab bersama.
6. Apabila beberapa tingkah laku terus timbul dan terus ada, yang sangat menekan baik bagi individunya atau bagi orang lain yang prihatin terhadap tingkah laku tersebut, kalau tidak hati-hati tingkah laku yang lain mungkin terjadi di dalam sistem interaksi, yang dapat menimbulkan dan mempertahankan tingkah laku yang bermasalah tersebut, padahal seharusnya perlu ada usaha untuk memecahkannya.

Sistem keluarga yang disfungsional memiliki 2 dimensi, yang masing-masing  memiliki 4 tingkatan, yaitu : Family Cohesion (keterikatan emosional), terdiri dari  rigid, structured, flexible, dan kacau; dan Family Adaptability (kemampuan  penyesuaian terhadap perubahan), yang terdiri dari disengaged (lepas), separated  (terpisah), connected (berhubungan), dan enmeshed (terlibat). Bentuk sistem  keluarga tersusun dalam model Circumplex. Dimana masing-masing  bentuk merupakan hasil interaksi dari masing-masing tingkatan di antara kedua  dimensi tersebut. Bentuk-bentuk system keluarga tersebut akan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu : seimbang, campuran, dan tidak seimbang. Kerangka lain untuk mengerti dinamika keluarga adalah perbedaan-perbedaan antara keluarga yang sehat dan keluarga yang tidak dapat berfungsi dengan baik.

TERAPI KELUARGA
Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Terapi keluarga dapat dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan orang lain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat menyesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda

Secara umum, tujuan family conseling/therapy adalah :
1. Membantu anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai  bahwa dinamika kelurga saling bertautan di antara anggota keluarga.
2. Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota  keluarga mengalami problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau lebih persepsi, harapan, dan interaksi dari anggota keluarga lainnya.
3. Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeostasis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga.
4. Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap anggota keluarga (Perez, 1979).

Model pendekatan baru yang dikembangkan dalam konseling keluarga yaitu:
1. Multiple Family Therapy
Keluarga-keluarga yang terpilih menemui konselor tiap minggu, dan pada waktu itu mereka menceritakan problem mereka masing-masing dan membantu sesama dalam pemecahan persoalan
2. Multiple impact Therapy
Mencakup seluruh keluarga dalam sederetan interaksi yang berkelanjutan dengan konselor – konselor komunitas yang multidisipliner mungkin selama dua hari. Terapi ini mencakup pemberian konseling secara penuh selama dua hari atau lebih kepada satu keluarga
3. Terapi jaringan (Network Therapy)
Berusaha memobilisasi sejumlah orang untuk berkumpul dalam suatu krisis untuk membentuk suatu kekuatan terapeutik. Tujuan ini adalah untuk memperkuat kekuatan dari jaringan yang dikumpulkan untuk memberi kesempatan untuk berubah di dalam sistem keluarga tersebut

Secara khusus, family conseling/therapy bertujuan untuk :
1. Membuat semua anggota keluarga dapat mentoleransikan cara atau perilaku  yang unik (idiosyncratic) dari setiap anggota keluarga.
2. Menambah toleransi setiap anggota keluarga terhadap frustrasi, ketika terjadi konflik dan kekecewaan, baik yang dialami bersama keluarga atau tidak  bersama keluarga.
3. Meningkatkan motivasi setiap anggota keluarga agar mendukung,  membesarkan hati, dan mengembangkan anggota lainnya.
4. Membantu mencapai persepsi parental yang realistis dan sesuai dengan persepsi anggota keluarga (Perez, 1979).

TEKNIK TERAPI KELUARGA/ FAMILY THERAPY
1. Teknik Terapi Struktural
Dasar pemikiran
Suatu patologi keluarga muncul akibat dari perkembangan rekasi yang disfungsional.  Fungsi-fungsi keluarga meliputi struktur keluarga, sub-systems dan keterikatannya.  Peraturan-peraturan tertutup dan terbuka dan hirarki-nya harus dimengerti dan  dirubah untuk membantu penyesuaian keluarga pada situasi yang baru.

a. Boundary-making
Boundary making adalah teknik struktural, dimana fungsi-fungsi psikologis dan fisik diberi jarak dalam sistem terapi keluarga yang kepentingannya sebagai proses diferensiasi. Tujuannya adalah mengurangi keterlibatan “overinvolvement” dalam sistem keluarga dengan kontruksi yang baru, batas fungsional antara sub sistem keluarga. Terapis dapat membuat simbol batas
b.  “boundaries” dengan menyusun kembali tempat atau susunan dengan menggunakan gerak tangan untuk memberhentikan atau memotong komentar.

2. Teknik Terapi Bowenian
Tujuan terapi adalah memaksimalkan diferensiasi diri pada masing-masing anggota keluarga. Kerangka umumnya dari Bowen adalah mengutamakan masa kini dan tetap memperhatikan latar belakang keluarga. Atauran dari ketidaksadaran adalah konsep terkini yang menyatakan konflik yang tidak disadari meskipun saat ini tampak pada masa interaktif. Fungsi utama dari terapis adalah langsung tapi tidak konfrontasi dan dilihat melalui penyatuan keluarga. Bowen mencoba menjembatani antara pendekatan yang berorientasi pada psikodinamika yang menekankan pada perkembangan diri, isu-isu antar generasi dan peran-peran masa lalu dengan pendekatan yang membatasi perhatian pada unit keluarga dan pengaruhnya dimasa kini.

3. Teknik Terapi Psikodinamika
Tujuan: memahami dan menjelaskan bagaimana dunia ketidaksadaran dalam diri individu terkait dengan konflik dalam keluarga (Contoh: Oedipus dan Electra Complex) sistem dari kepribadian yang saling berinteraksi
Tahap-tahap terapi:
  1. Mengorganisasikan kepribadian setiap anggota keluarga (konflik intrapsikis, defense mechanism, adanya masalah indv: phobia)
  2. Memahami dinamika peran dalam keluarga à setiap anggota keluarga bert.l untuk mencapai keseimbangan, sehingga tercapai perilaku yang adaptif
  3. Memahami perilaku keluarga sebagai sistem sosial.

4. Teknik Terapi Behavioral
Tujuan dari terapi behavioral adalah merubah konsekuaensi perilaku anatar pribadi yang mengarah pada penghilangan perilaku maladaptif atau problemnya. Kerangka umum dari pendekatan behavioral adalah masa kini yang lebih memfokuskan pada lingkungan interpersonal yang terpelihara dan muncul terus dalam pola perilaku terkini. Fungsi utama dari terapis adalah direktif, mengarahkan, membimbing atau model dari perilaku yang diinginkan dan negosiasi kontrak
Jenis terapi keluarga yang biasa digunakan dalam pendekatan behavioral guna menyususn kembali sebuah keutuhan keluarga adalah:
a. Behavioral marital therapy
b. Behavioral parent training

- Behavioral Exchange Interventions
Behavioral Exchange Interventions digunakan untuk mengembangkan tingkah laku dan ganjaran emosional dan mereduksi tingkah laku yang merugikan yang menyebabkan reaksi yang segan dari partner
- Establishment of a Baseline
Untuk membangun garis bersa “baseline” frekuensi target behavior adalah mencatat asal mula dalam sebuah perintah untuk mendeterminasi respons akibat intervensi terapeutik
-       Positif Reinforcement
Penguatan posistif mengacu pada pada penghargaan yang terjadi antara anggota keluarga dan tingkah laku tersebut diapresiasi melalui pernyataanperbyataan keluarga
-          Negatif Reinforcement
Penguatan negatif adalah serupa dengan penguatan posistif, tetapi penghargaan lebih bersipat langsung,
-          Coercion and Punishment
Kekerasan “Coercion” dan punishment dihubungkan dengan tipe interaksi, keadaan disfungsi keluarga, dimana seseorang menggunakan sikap eversif “enggan” untuk mengontrol anggota keluarga yang lain.
-          Contracting
Contracting dihubungkan untuk prosedur membuat kontak antara anggota keluarga dengan tujuan membuat ketertarikan dalam berinteraksi. Dalam sebuah kepercayaann yang baik “good faith” atau kontrak pararel, seseorang akan memproduksi tingkah laku secara bebas terhadap anggota keluarga.
Dalam “quid pro quo contract, tingkah laku anggota keluarga tergantung pada
tingkah laku anggota lain
a. Coaching
Coacing dihubungkan dengan ketetapan intruksi verbal oleh terapis, bagaimana untuk memotivasi ketertarikan sebagai hasil dari interaksi. Sebagai contoh, seorang terapis dapat melatih suami istri untuk bersikap lemah lembut terhadap partenernya ,ketertarikan tingkah laku meskipun dalam posisi marah
b. Modeling
Modeling dihubungkan terhadap penemuan tingkah laku baru dengan mengobservasi pertunjukan orang lain sebagai hasil dari ganjaran. Modeling dapat memperkuat ketertarikan tingkah laku atau kelemahan respon pembelajaran.
c. Caring Days
Dalam pendekatan caring days, keragaman identitas tingkah laku suami istri beserta pasanganya; masing-masing pasangan kemudian berkomitmen untuk meningkatkan frekuensi tingkah laku mereka dan ganjaran emosional dalam sebuah hubungan
d. Loving Days
Dalam pendekatan loving days, pasangan suami istri ditanya untuk memperluas tingkah laku yang menyenangkan terhadap partener pada harihari khusus, sebagai contoh membawa bunga atau memberikan ciuman
d. Reciprocating
Reciprocating dihubungkan terhadap interaksi antara dua orang dimana ganjaran “reward” untuk dua kelompok secara sejajar dalam waktu dan penguatan diri
e. Token Economy
A token Economy menggunakan penguatan sekunder, masing-masing diawal dan akhir, sebagai ganjaran kesesuaian penampilan. Denda diberikan sebagai tingkah laku yang tidak menarik.
f. Functional Analysis
Teknik analisis fungsional meruapkan studi tentang fungsi-fungsi simtom dalam sistem keluarga. Tingkah laku simtomatik dalam anggota keluarga muncul dari ekpresi diri atau sikap tertutup.

5. Teknik Terapi Komunikasi
Tujuan pendekatan komunikasi adalah mengubah perilaku disfungsional dan rangkaian perilaku yang tidak diinginkan antara anggota keluarga serta memperbanyak sekuensi perilaku diantara anggota keluarga untuk mengurangi timbulnya masalah-masalah dan simptom symptom kerangka umum dari pendekatan komunikasi adalah masa kini yaitu problem terkini atau perilaku yang sedang terjadi berulang secara konsisten atar individu. Fungsi dari terapis adalah aktif, manipulative, problem fokus, paradoksial dan memberikan petunjuk.

6. Teknik Terapi Kontektual
a. Multidirected Partiality
Multi directed partiality dihubungkan dengan keterbukaan terapis, sikap mendengarkan dengan bujak terhadap masing-masing anggota keluarganya menyangkut kebutuhan, dengan harapan masing-masing anggota keluarga berbicara serata hubungannnya dengann yang lain. Multi directed partiality adalah hal yang vital dalam pendekatan kontektual karena hal ini tertuju pada dimensi hubungan-hubungan etik dan kejujuran kontek.
Menurut pendekatan kontektual, anggota keluarga mengekpresikan masing-masing posisi mengenai keseimbangan dalam hal memberi dan menerima. Tugas terapis adalah membantu masing-masing anggota keluarga termasuk posisi dan kemudian melatih keseimbgnan yang terjadi
b. Therapeutik Contract
Kontrak terapeutik dihubungkan dengan komitmen terapis untuk menyamakan treatmen individu dalam hubungannya dnegan keluarga mereka. Keadilan adalah jaminan melalui multidirected partiality
c. Invisible Loyalty Commitment in the Family
d. Exploring the Loyalti Contexs
Terapis mengeksplor pengaruh atau tidaknya dalam keluarga dengan mendengarkan secara hati-hati sekaligus masukan yang dihadapkan pada anggota lkeluarga kemudian mereka mengeksplor dalam posisi adil. Tujuannya adalah untuk menghilangkan perasaan negatif.


Daftar Pustaka

Perez, Joseph F. (1979). Family Counseling : Theory and Practice .
New York, Van Nostrand, Co.
David, H Olson, dkk, (2000). Empowering Couples; Buliding or your strengths
Goldenberg, Irene & Goldenberg, Herbert. (1985). Family Therapy: An Overview
Hershenson, David B, Power, Paul W, Waldo Michael. (1996). Community
Conseling, Boston: Allyn and Bacon.

Howard, A.L, dkk, (2001). Family Psychology. Sciencebased intervention, APA;
Woshington DC.
Imbercoopersmith, Evan. (1985). Teaching Trainee To Think In Triad. Journal of
Marital and Family Therapy, Vol.11, No.1,61-66.
Hershenson, David B.; Power, Paul W.; & Waldo, Michael. (1996). Community
Counseling, Contemporer Theory and Practice.
Kendall, Philip C. & Norton-Ford, Julian. Professional Dimension Scientific and
Professional Dimension. USA, John Willey and Sons, Inc.