Nama: Puja Barisman Putro
NPM: 16513941
Kelas: 1PA02
KEGELISAHAN
DAN HARAPAN
Kegelisahan
berasal dari kata “gelisah”. Gelisah artinya rasa yang tidak tentram di hati
atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi
(menanti), cemas, dan sebagainya. Kegelisahan arti nya perasaan-perasaan,
khawatir, cemas atau takut
Kegelisahan ini sesuai dengan suatu
pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir
atau takut. Manusia suatu saat dalam
hidupnya akan mengalami kegelisah. Kegelisahan ini apabila cukup lama
hinggap pada manusia akan menyebabkan suatu gangguan penyakit. Kegelisahan (ancienty) yang
cukup lama akan menghilangkan kemampuan untuk merasa
bahagia. Kegelisahan selalu menunjukan kepada suasana negatif atau ketidak
sempurnaan, tetapi mempunyai harapan
Dikatakan
negatif atau ketidaksempurnaan karena menyentuh nilai- nilai kemanusiaan yang
menimbulkan kerugian. Kegelisahan menunjukan kepada suasana positif dan
optimis karena masih ada harapan bebas dari kegelisahan, yang mendorong manusia mencari kesempurnaan dan
mendorong manusia supaya kreatif. Tragedi
dunia modern tidak sedikit menyebabkan kegelisahan. Hal ini mungkin akibat
kebutuhan hidup yang meningkat rasa individualistis dan egoisme,
persaingan dalam hidup, kadaan yang tidak stabil, dan seterusnya.
Kegelisahan dalam
konteks budaya dapatlah di katakan sebagai akibat adanya insting manusia untuk berbudaya, yaitu sebagai upaya
mencari “kesempurnaan“. atau, dari segi batin manusia,gelisah sebagai akibat dosa pada hati manusia. Dan tidak jarang akibat
kegelisahan seseorang, sekaligus membuat orang lain
menjadi korbannya. Penyebab kegelisahan dapat pula dikatakan akibat
mempunyai kemampuan untuk membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan.
Kehidupan ini yang menyebabkan mereka
gelisah. Mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka
hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti. Orang yang tidak mempunyai dasar
dalam menjalankan tugas (hidup), sering di timpa kegelisahan Kegelisahan yang demikian sifatnya abstrak
sehingga disebut kegelisahan murni, yaitu merasa gelisah tanpa mengetahui
apa kegelisahannya, seolah-olah tanpa sebab.
Ini berbeda dengan kegelisahan
“terapan” yang terjadi dalam peristiwa kehidupansehari-hari, seperti kegelisahan karena
anaknya sampaimalam belum pulang, orang tua yang sakit keras,
istrinya yang sedang melahirkan, diasingkan oleh orang-orang sekitarnya,
melakukan perbuatan dosa yang ditentang nuraninya, dan sebagainya. Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah
karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa
keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih
berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia.
Persaan seseorang yang sedang gelisah, ialah hatinya
tidak tenteram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik dan sebagainya.
Perasaan cemas menurut Sigmund Freud
ada tiga macam, yaitu:
1. Kecemasan obyektif, kegelisahan
ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti anaknya yang belum pulang, orang
tua yang sedang sakit keras, dan sebagainya.
2.Kecemasan
neurotik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya darinaluri. Contohnya dalam penyesuaian
diri dengan lingkungan, rasa takut yang irasional semacam fobia,
rasa gugup, dan sebagainya.
3.Kecemasan moral. Hal ini muncul
dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki, dendam, hasud, marah,
rendah diri, dan sebagainya.
Uraian tentang penderitaan disini di
analogikan dengan perasaan gelisah (kegelisahan hati) sebagai akibat kecemasan moral.Untuk mengatasi kegelisahan ini (dalam
ajaran islam),manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman,
takwa, dan amal shaleh. Seperti difirmankan : “Sesungguhnya manusia
diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila di tempa kesusahan, ia
berkeluh kesah, tetapi bila ia mendapatkan kebaikan, ia amat kikir, kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat, mereka yang tetap mengerjakan
shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan
orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut
terhadap adzab Tuhannya.’’ Hanya dengan cara
mendekatkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia akan hilang.
Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal dengan
Tuhan, tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia
sebagaimana di perintahkan oleh Tuhan sendiri. Tentang kecemasan ini Sigmund
Freud membedakan menjadi tiga macam : kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan
neurotic, dan kecemasan moral.
Harapan
Harapan atau asa adalah
bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau
suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan
berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang, dibatin dan
dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya harapan tertumpu pada seseorang
atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya
menjadi nyata dengan cara berdoa atau berusaha.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa
esensi harapan berbeda dengan "berpikir positif" yang merupakan salah
satu cara terapi/ proses
sistematis dalam psikologi untuk
menangkal "pikiran negatif" atau "berpikir pesimis".
Kalimat lain "harapan palsu"
adalah kondisi dimana harapan dianggap tidak memiliki dasar kuat atau
berdasarkan khayalan serta kesempatan harapan tersebut
menjadi nyata sangatlah kecil.
Contoh hubungan antara
kegelisahan dan pengharapan:
ada
sepasang suami-istri yang sedang mengalami masa-masa menyenangkan sekaligus
ketegangan. Di mana sang istri sedang mengandung anak nya yang pertama. Di
situasi yang tidak memungkinkan, sang istri tiba-tiba merasakan perut nya yang
sangat kesakitan. Dengan rasa panik yang di alami nya, lalu sang ayah langsung
membawa istri nya ke rumah sakit.
Setiba nya di rumah sakit, ayah tersebut langsung
memanggil para suster. Dengan terburu-buru, beberapa suster segera membawa
kursi roda. Lalu istri tersebut di bawa ke ruang persalinan untuk melakukan pengecekkan
kandungan. Ternyata, sang istri positif akan melahirkan di hari itu juga.
Sang suami tidak mengetahui bagaimana kondisi yang di
alami istri nya itu. Dengan rasa gelisah, sang suami hanya bisa berharap dan
berdoa semoga dalam proses kelahiran berjalan dengan lancar tanpa ada masalah.
Ketika dokter sedang meng operasi sang istri, tiba-tiba mengalami masalah yang
besar ketika ingin mengeluarkan bayi tersebut dari sang istri. Masalah tersebut
yaitu, dokter tidak bisa memutuskan mana yang bisa di selamatkan. Lalu di panggil nya sang ayah untuk menemui
dokter. Dokter menjelaskan “bapak, bayi yang terdapat di kandungan istri tidak
bisa di selamatkan. Jika ingin di selamatkan, maka bapak harus merelakan ibu
atau anak bapak yang ingin di selamatkan.” Dengan perasaan yang bingung, ayah
tersebut lalu memutuskan istri nya saja yang selamat. Maka dengan keputusan
yang berat itu, sang dokter langsung melanjutkan melakukan operasi.
Akhirnya sang istri berhasil di selamatkan, sementara
bayi yang terdapat di kandungan ibu nya itu terpaksa di gugurkan atau tidak
bisa di selamatkan.
Tanggapan:
Menurut pendapat saya,
dengan kejadian yang di alami oleh pasangan suami istri tersebut perlu kita
sadari memang sangat berat memutuskan suatu pilihan. Kita hanya bisa berharap
dan berdoa apa pun yang akan terjadi. Karena kegelisahan itu merupakan hal yang
alami yang di miliki oleh manusia. Dengan berharap semoga pilihan yang di ambil
merupakan pilihan yang terbaik dalam memutuskan suatu pilihan dalam hidup.
Daftar
Pustaka
