Humanistik Eksistensial
Ahli
teori eksistensial-humanistik seperti Victor Frankl (1962) berfokus pada
keuntungan pilihan pribadi. Apabila orang memilih untuk tumbuh dan berkembang, tuntutan
dari sesuatu yang tidak diketahui menimbulkan kecemasan; tetapi kecemasan
tersebut tidak bisa membuat seseorang mencapai kemenangan dan pemenuhan diri.
Frankl pernah dipenjara dalam kamp konsentrasi Nazi. Aspek psikologisnya
selamat karena ia memilih untuk mencari makna dari penderitaannya dan mengambil
tanggung jawab untuk mengatur sedikit bagian hidupnya yang tersisa. Ia tidak
menerima dan menuruti begitu saja segala horror yang terjadi di sekitarnya.
Perjuangan
eksistensial dapat mendatangkan kemenangan jiwa manusia. Pahlawan dalam dunia
modern kita saat ini adalah orang yang dapat menahan tekanan masyarakat
otoritier yang kacau.
Hal
ini menunjukkan bahwa dalam banyak hal, perspektif eksistensial dan humanistic terletak
pada sisi mata uang yang berbeda.
Bagian
di mana pendekatan eksistensial-humanistik memiliki pengaruh yang besar adalah
di antara orang yang menderita penyakit berat. Saat ini sekelompok kecil orang
pengidap penyakit keras yang kurang lebih serupa umumnya berkumpul setiap
minggu untuk berdiskusi. Kelompok-kelompok seperti ini awalnya bermunculan di
antara penderita kanker, akan tetapi saat ini kelompok seperti itu berkembang
di antara sebagian besar pengidap masalah medis lainnya.
Latar Belakang Psikologi Humanistik
Merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun
1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang
pada abad pertengahan.
Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai ” kekuatan ketiga ” dalam aliran psikologi.
Psikoanalisis “Sigmund Freud” berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat.
Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai ” kekuatan ketiga ” dalam aliran psikologi.
Psikoanalisis “Sigmund Freud” berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat.
Behaviorisme
“Ivan Pavlov” meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor eksternal
dari lingkungan.
Humanistik
“Abraham Maslow” memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi yang
dimiliki manusia, hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang
motivasi dan aktualisasi diri seseorang.
Pendekatan Humanistik Therapy
Humanistik
Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya
mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas
menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu dalam terapi humanistik
seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja bukan
mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien,
melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas
dasar kesadarannya sendiri.
Konsep
masing-masing prinsip psikologi humanistik adalah sebagai berikut:
1. Hasrat untuk belajar
2. Belajar yang berarti
3. Belajar tanpa ancaman
4. Belajar atas inisiatif sendiri
5. Belajar dan perubahan
Humanistik Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik
dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap
manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh
karena itu dalam terapi humanistik seorang psikoterapis berperan sebagai
fasilitator perubahan saja bukan mengarahkan perubahan.
Konsep-KonsepUtama
1. Kesadaran diri
1. Kesadaran diri
-
Manusia
memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang
unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
-
Semakin
besar kesadaran dirinya, maka semakin besar pula kebebasannya untuk memilih
altrnatif-alternatif.
-
Kebebasan
memilih dan bertindak itu disertai dengan tanggung jawab.
-
Manusia
bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
2. Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
·
Kesadaran
akan kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi
atribut dasar pada manusia.
·
Kecemasan
juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan
yang tak terhindarkan untuk mati (Nonbeing)
3. Penciptaan Makna
- Manusia berusaha untuk menemukan tujuan
hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.
- Menjadi manusia juga berarti
menghadapi kesendirian.
- Manusia memiliki kebutuhan untuk
berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna.
- Manusia juga berusaha untuk
mengaktualisasikan diri, yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya.
Apabila gagal mengaktualisasikan dirinya, maka ia bisa menjadi “sakit”.
Pengertian Eksistensialisme
Eksistensialisme
berasal dari kosakata Latin existere yang berarti stand out, muncul, atau become. Dengan demikian,
eksistensi berarti kemunculan atau sebuah proses menjadi ada (Graham, 2005). Sartre
(1946, cetak ulang 1984 dalam Graham, 2005) mengatakan bahwa eksistensialisme
adalah suatu humanisme yang terkait dengan manusia dan nilai-nilai personal
serta dengan realisasi kemakhlukan manusia sejati.
Panza
& Gale (2008) menyatakan bahwa eksistensialisme merupakan filosofi yang
membuat hidup menjadi mungkin. Mereka berpendapat bahwa agar hidup seseorang
dapat menjadi sempurna, selain oksigen, manusia juga membutuhkan
eksistensialisme.
Pada
abad ke-19, dengan munculnya revolusi industri, manusia mulai merasa tidak
terhubung dengan kepercayaan tradisional yang biasanya membantu agar mereka
merasa dunia dan hidup mereka masuk akal. Akibat dari hal ini adalah terjadinya spiritual suicide yang ditandai dengan munculnya rasa
pasrah dan merasa bahwa keberadaan mereka tidak ada artinya (Panza & Gale,
2008). Maka dari itu, eksistensialisme muncul agar dapat memperbaiki masalah
ini.
Teknik dan Prosedur Terapeutik
Pendekatan
eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara
ketat. Prosedur-prosedur terapeutik dapat dipungut daribeberapa pendekatan
terapi lainnya seperti metode-metode yang berasal dari terapi Gestalt dan
Analisis Transaksional sering digunakan dan sejumlah prinsip dan prosedur
psikoanalisis bisa diintegrasikan kedalam pendekatan eksistensial-humanistik.
Fungsi dan Peran Terapis
Terapis
yang berorientasi eksistensial-humanistik akan mendekati stan dengan pandangan
bahwa dia memiliki kesanggupan untuk memperluas kesadarannya dan memutuskan
diri arah kehidupan masa depannya. Terapis akan meminta stan menyadari bahwa ia
tidak perlu menjadi korban pengkondisian masa lampau, tetapi ia bisa menjadi
arsitek dalammerancang ulang kehidupannya. Stan bisa membebaskan diri dari
kekuatan-kekuatan deterministic dan menerima tanggung jawab.
Contoh Kasus dan Analisis
“Dasar
manusia jahanam! Memang koruptor tak tau diuntung!"
Kalimat
di atas bukan saja mampu memprovokasi, tapi mampu menghadirkan wacana filosofis
tentang diri manusia. "Manusia itu jahanam, koruptor tak tau
diuntung" tentu saja kalimat yang menceritakan tentang seseorang, yang
berkorupsi dan kemudian dikutuk oleh orang lain. Namun apakah koruptor memang
akan selamanya jahanam? Apakah seorang jahanam juga akan selamanya buruk?
Nyatanya, manusia mampu berubah-ubah.
Mari
kita ingat para pejuang reformasi. Para mahasiswa yang dulunya berada pada
barisan menurunkan Pak Harto, setelah jadi anggota DPR, tidak pasti bahwa dia
seideal apa yang dulunya digagasinya. Karena setelah jadi anggota DPR juga
masih ada yang korupsi. Maka, ini membuktikan bahwa manusia dapat berubah. Dia
hanya tidak dapat berubah jika dia sudah meninggal dunia. Melabel seseorang
(manusia) pada masa hidupnya sangatlah tidak masuk akal dan tidak jujur.
Inilah
yang dicuplik J.P. Sartre, filsuf eksistensialisme. Konsep eksistensialisme
adalah bahwa manusia dapat berubah. Selama hidupnya, manusia akan menjadi
pengada untuk dirinya (being for itself) dan pengada pada dirinya (being in
itself). Dia bisa menciptakan dirinya yang berbeda-beda. Dia bisa menghargai
dirinya, membangun dirinya, dan membuat dirinya eksis atau tidak. Tujuan umum
manusia adalah membuat dirinya selaras dengan being for itself dan being in
itself. Manusia sangat bebas. Ya, sangat bebas menciptakan dirinya maupun
membangun dirinya. Bagi Sartre, tidak ada Tuhan. Sebab jika ada Tuhan,
kebebasan manusia tidak ada.
Konsep
eksistensialisme yang diberikan oleh Sartre dapat dinyatakan sebagai gerakan
humanisme. Gagasan Sartre merupakan doktrin yang memungkinkan kehidupan
manusia. Manusia tidak lain daripada apa yang dipilih dan diciptakannya dalam
hidup, tetapi bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk semua
manusia. Memang harus diakui bahwa pandangan "esksistensi mendahului
esensi" sebagai konsekuensi dari ketiadaan Tuhan, tapi setidaknya gagasan
Sartre secara filosofis dapat diterima.
Kasus
lain dapat dilihat dari seorang buronan dan mantan penjahat bisa saja menjadi
orang suci. Orang suci sekelas Pastur pun bisa menjadi bejat dan jauh dari
kebenaran. Setiap manusia dapat berubah.
Daftar
Pustaka
Djamarah,
Syaiful Bahri. (2011). Psikologi
Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Makmur, Agin
Syamsudin. (2013). Psikologi
Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja
W. Sarwono, Sarlito. (2000).
Berkenalan dengan Aliran-aliran dan
Tokoh-tokoh Psikologi,
Jakarta:
PT. Bulan Bintang
Graham, Helen.
(2005). Psikologi Humanistik:
dalam Konteks Sosial, Budaya, dan Sejarah
(Cetakan Pertama). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gladding TS. (2000). Counseling:
A Comprehensive Profession. New Jersey: Prentice
Hall, Inc.
Nama:
Puja Barisman Putro
Kelas:
3PA05
NPM:
16513941

