Minggu, 20 Maret 2016

Terapi Humanistik Eksistensial

Humanistik Eksistensial
Ahli teori eksistensial-humanistik seperti Victor Frankl (1962) berfokus pada keuntungan pilihan pribadi. Apabila orang memilih untuk tumbuh dan berkembang, tuntutan dari sesuatu yang tidak diketahui menimbulkan kecemasan; tetapi kecemasan tersebut tidak bisa membuat seseorang mencapai kemenangan dan pemenuhan diri. Frankl pernah dipenjara dalam kamp konsentrasi Nazi. Aspek psikologisnya selamat karena ia memilih untuk mencari makna dari penderitaannya dan mengambil tanggung jawab untuk mengatur sedikit bagian hidupnya yang tersisa. Ia tidak menerima dan menuruti begitu saja segala horror yang terjadi di sekitarnya. 
Perjuangan eksistensial dapat mendatangkan kemenangan jiwa manusia. Pahlawan dalam dunia modern kita saat ini adalah orang yang dapat menahan tekanan masyarakat otoritier yang kacau.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam banyak hal, perspektif eksistensial dan humanistic terletak pada sisi mata uang yang berbeda.
Bagian di mana pendekatan eksistensial-humanistik memiliki pengaruh yang besar adalah di antara orang yang menderita penyakit berat. Saat ini sekelompok kecil orang pengidap penyakit keras yang kurang lebih serupa umumnya berkumpul setiap minggu untuk berdiskusi. Kelompok-kelompok seperti ini awalnya bermunculan di antara penderita kanker, akan tetapi saat ini kelompok seperti itu berkembang di antara sebagian besar pengidap masalah medis lainnya.

Latar Belakang Psikologi Humanistik
Merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan.
Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai ” kekuatan ketiga ” dalam aliran psikologi.
Psikoanalisis “Sigmund Freud” berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat.
Behaviorisme “Ivan Pavlov” meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor eksternal dari lingkungan.
Humanistik “Abraham Maslow” memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi yang dimiliki manusia, hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang.

Pendekatan Humanistik Therapy
Humanistik Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu dalam terapi humanistik seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
Konsep masing-masing prinsip psikologi humanistik adalah sebagai berikut:
1.      Hasrat untuk belajar
2.      Belajar yang berarti
3.      Belajar tanpa ancaman
4.      Belajar atas inisiatif sendiri
5.      Belajar dan perubahan

Humanistik Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu dalam terapi humanistik seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja bukan mengarahkan perubahan.
Konsep-KonsepUtama
1.         Kesadaran diri
-          Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
-          Semakin besar kesadaran dirinya, maka semakin besar pula kebebasannya untuk memilih altrnatif-alternatif.
-          Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai dengan tanggung jawab.
-          Manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
2.         Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
·         Kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia.
·         Kecemasan juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (Nonbeing)
3.         Penciptaan Makna
-     Manusia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.
-     Menjadi manusia juga berarti  menghadapi kesendirian.
-     Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna.
-     Manusia juga berusaha untuk mengaktualisasikan diri, yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Apabila gagal mengaktualisasikan dirinya, maka ia bisa menjadi “sakit”.

Pengertian Eksistensialisme
Eksistensialisme berasal dari kosakata Latin existere yang berarti stand out, muncul, atau become. Dengan demikian, eksistensi berarti kemunculan atau sebuah proses menjadi ada (Graham, 2005). Sartre (1946, cetak ulang 1984 dalam Graham, 2005) mengatakan bahwa eksistensialisme adalah suatu humanisme yang terkait dengan manusia dan nilai-nilai personal serta dengan realisasi kemakhlukan manusia sejati.
Panza & Gale (2008) menyatakan bahwa eksistensialisme merupakan filosofi yang membuat hidup menjadi mungkin. Mereka berpendapat bahwa agar hidup seseorang dapat menjadi sempurna, selain oksigen, manusia juga membutuhkan eksistensialisme.
Pada abad ke-19, dengan munculnya revolusi industri, manusia mulai merasa tidak terhubung dengan kepercayaan tradisional yang biasanya membantu agar mereka merasa dunia dan hidup mereka masuk akal. Akibat dari hal ini adalah terjadinya spiritual suicide yang ditandai dengan munculnya rasa pasrah dan merasa bahwa keberadaan mereka tidak ada artinya (Panza & Gale, 2008). Maka dari itu, eksistensialisme muncul agar dapat memperbaiki masalah ini.

Teknik dan Prosedur Terapeutik
Pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur terapeutik dapat dipungut daribeberapa pendekatan terapi lainnya seperti metode-metode yang berasal dari terapi Gestalt dan Analisis Transaksional sering digunakan dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan kedalam pendekatan eksistensial-humanistik.

Fungsi dan Peran Terapis
Terapis yang berorientasi eksistensial-humanistik akan mendekati stan dengan pandangan bahwa dia memiliki kesanggupan untuk memperluas kesadarannya dan memutuskan diri arah kehidupan masa depannya. Terapis akan meminta stan menyadari bahwa ia tidak perlu menjadi korban pengkondisian masa lampau, tetapi ia bisa menjadi arsitek dalammerancang ulang kehidupannya. Stan bisa membebaskan diri dari kekuatan-kekuatan deterministic dan menerima tanggung jawab.

Contoh Kasus dan Analisis
“Dasar manusia jahanam! Memang koruptor tak tau diuntung!"
Kalimat di atas bukan saja mampu memprovokasi, tapi mampu menghadirkan wacana filosofis tentang diri manusia. "Manusia itu jahanam, koruptor tak tau diuntung" tentu saja kalimat yang menceritakan tentang seseorang, yang berkorupsi dan kemudian dikutuk oleh orang lain. Namun apakah koruptor memang akan selamanya jahanam? Apakah seorang jahanam juga akan selamanya buruk? Nyatanya, manusia mampu berubah-ubah.
Mari kita ingat para pejuang reformasi. Para mahasiswa yang dulunya berada pada barisan menurunkan Pak Harto, setelah jadi anggota DPR, tidak pasti bahwa dia seideal apa yang dulunya digagasinya. Karena setelah jadi anggota DPR juga masih ada yang korupsi. Maka, ini membuktikan bahwa manusia dapat berubah. Dia hanya tidak dapat berubah jika dia sudah meninggal dunia. Melabel seseorang (manusia) pada masa hidupnya sangatlah tidak masuk akal dan tidak jujur.
Inilah yang dicuplik J.P. Sartre, filsuf eksistensialisme. Konsep eksistensialisme adalah bahwa manusia dapat berubah. Selama hidupnya, manusia akan menjadi pengada untuk dirinya (being for itself) dan pengada pada dirinya (being in itself). Dia bisa menciptakan dirinya yang berbeda-beda. Dia bisa menghargai dirinya, membangun dirinya, dan membuat dirinya eksis atau tidak. Tujuan umum manusia adalah membuat dirinya selaras dengan being for itself dan being in itself. Manusia sangat bebas. Ya, sangat bebas menciptakan dirinya maupun membangun dirinya. Bagi Sartre, tidak ada Tuhan. Sebab jika ada Tuhan, kebebasan manusia tidak ada.
Konsep eksistensialisme yang diberikan oleh Sartre dapat dinyatakan sebagai gerakan humanisme. Gagasan Sartre merupakan doktrin yang memungkinkan kehidupan manusia. Manusia tidak lain daripada apa yang dipilih dan diciptakannya dalam hidup, tetapi bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk semua manusia. Memang harus diakui bahwa pandangan "esksistensi mendahului esensi" sebagai konsekuensi dari ketiadaan Tuhan, tapi setidaknya gagasan Sartre secara filosofis dapat diterima.
Kasus lain dapat dilihat dari seorang buronan dan mantan penjahat bisa saja menjadi orang suci. Orang suci sekelas Pastur pun bisa menjadi bejat dan jauh dari kebenaran. Setiap manusia dapat berubah.

Daftar Pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Makmur, Agin Syamsudin. (2013). Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja
W. Sarwono, Sarlito. (2000). Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi,
Jakarta: PT. Bulan Bintang

Graham, Helen. (2005). Psikologi Humanistik: dalam Konteks Sosial, Budaya, dan Sejarah
(Cetakan Pertama). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gladding TS. (2000). Counseling: A Comprehensive Profession. New Jersey: Prentice
Hall, Inc.


Nama: Puja Barisman Putro
Kelas: 3PA05

NPM: 16513941

Tidak ada komentar:

Posting Komentar