Pada awalnya psikologi manajemen merupakan dua bidang ilmu yang
terpisah, yaitu psikologi dan manajemen. Untuk menjamin kesuksesan suatu
organisasi diperlukan pemahaman yang baik terhadap teori manajemen guna
mendorong efektivitas dan efisiensi kerja atau profesionalisme manajemen.
Perkembangan awal teori manajemen adalah tokoh Robert Owen dan Charles Babbage.
Awalnya konsep manajemen digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, kemudian
timbul pemikiran bahwa akal manusia dapat memenuhi kebutuhan itu secara lebih
efektif lagi, setelah itu dibutuhkan modal untuk mendanai alat yang akan
membantu dalam meningkatkan efektifitas.
Robert Owen (1771-1858) sebagai manajer pabrik di New Lanark,
Skotlandia memberikan pemikiran bahwa unsur manusia penting dalam suatu
produksi. Sehingga memperbaiki kondisi kerja yang meliputi hari kerja standar,
usia kerja, perumahan karyawan, dan mengoperasikan toko perusahaan dengan harga
jual barang yang murah.
Charles Babbage (1782-1871) menganjurkan prinsip pembagian kerja
melalui alat hitung (kalkulator) mekanis pertama, mengembangkan program
permainan untuk komputer, pembagian keuntungan, kerjasama yang menguntungkan
dalam manajemen.
Teori organisasi klasik memberikan pemikiran untuk pedoman pengelolaan
organisasi. Setelah itu hubungan manusiawi melengkapi teori organisasi klasik
dari pandangan sosiologi dan psikologi. Sejak zaman revolusi industri tiga
modal kerja yang utama adalah Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia
(SDM), dan Sumber Daya Uang (SDU), dan ilmu manajemen berkisar pada upaya untuk
mengoptimalkan kinerja antar ketiga modal kerja tersebut. Dengan di temukan dan
dikembangkannya ilmu psikologi diketahui bahwa unsur Sumber Daya Manusia
ternyata merupakan yang terpenting, yang mampu mengintervensi atau mengolah
berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan,
dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM
yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.
Manajemen ilmiah lebih memikirkan cara untuk meningkatkan
produktivitas dari pabrik dan pekerja. Aliran manajemen modern mempermudah
manajer dalam melaksanakan manajemen melalui pendekatan perilaku organisasi dan
riset operasi.
Menurut Ricky W. Griffin (2002) mendefinisikan manajemen
sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan
efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan,
sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar,
terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
KOMUNIKASI
Secara harafiah,
komunikasi berasal dari Bahasa Latin: COMMUNIS yang berarti keadaan yang biasa,
membagi. Dengan kata lain, komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan
atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat dipahami. Data adalah keterangan atau bahan nyata
yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan).
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang
lebih berguna dan lebih berarti bagi penerima, yang menggambarkan suatu
kejadian-kejadian yang bersifat fakta yang digunakan untuk mengambil
kesimpulan. Dalam suatu organisasi biasanya selalu menekankan bagaimana
pentingnya sebuah komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala
kemungkinan kesalahpahaman yang bisa saja terjadi.
Berikut ini adalah definisi komunikasi menurut Sarwono,
Sarlito Wirawan (1995). serta penjelasan mengenai komunikasi
menurut beberapa ahli lainnya:
1. Palo Alto
Ketika dua orang sedang bersama,
mereka berkomunikasi secara terus menerus karena mereka tidak dapat
berperilaku. Palo Alto sangat percaya bahwa seseorang tidak dapat tidak
berkomunikasi.
2. Himstreet & Baty
Komunikasi adalah suatu proses
pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim),
baik dengan simbol-simbol, sinyak-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.
3. Bovee
Komunikasi adalah suatu proses
pengiriman dan penerimaan pesan.
4. Lasweel
Komunikasi adalah proses yang
menggambarkan siapa mengatakn apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek
apa.
5. Carl I. Hovland
Komunikasi adalah proses dimana
seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan biasanya dengan
lambang-lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku
orang lain.
MEMPENGARUHI PERILAKU
Faktor-faktor yang memengaruhi
perilaku manusia
1. Sikap, adalah suatu ukuran
tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu.
2. Norma sosial, adalah pengaruh
tekanan sosial.
3.Kontrol perilaku pribadi, adalah
kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku.
Sedangkan menurut Green (2003) faktor perilaku dibentuk oleh
tiga faktor utama yaitu :
- Faktor
predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor yang mempermudah atau
mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan,
sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.
- Faktor pemungkin (enabling
factors), yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku
atau tindakan antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan, prasarana
dan sarana serta sumber daya.
- Faktor pendorong atau penguat
(reinforcing factors), faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya
perilaku misalnya dengan adanya contoh dari para tokoh masyarakat yang
menjadi panutan.
Menurut Della Warsinah
(2008) terdapat tahapan-tahapan dari individu yang bisa mempengaruhi faktor perilaku
Pada
tahap pertama, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah
pengetahuan (knowledge). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian
dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu, dan ini
terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Komponen kognitif merupakan representasi yang dipercaya oleh individu. Komponen
kognitif berisi persepsi dan kepercayaan yang dimiliki individu mengenai
sesuatu kepercayaan datang dari yang telah dilihat, kemudian terbentuk suatu
ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek.
Tahap kedua adalah tahap memahami (comprehension), merupakan
tahap memahami suatu objek bukan sekedar tahu atau dapat menyebutkan, tetapi
juga dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek.
Tahap selanjutnya, tahap ketiga, tahap aplikasi (application),
yaitu jika orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat mengaplikasikan
prinsip yang diketahui pada situasi yang lain.
Sedangkan tahap ke empat merupakan tahap analisis
(analysis), merupakan kemampuan seseorang menjabarkan dan atau memisahkan.
Indikasi bahwa pengetahuan seseorang sudah sampai pada tingkat analisis jika
dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram pada pengetahuan
atas objek tersebut.
Tahap ke lima adalah sintesis (synthesis). Tahap ini
menunjukkan kemampuan seseorang untuk merangkum suatu hubungan logis dari
komponen komponen pengetahuan yang dimiliki. Sintesis merupakan kemampuan
untuk menyusun formulasi baru. Sedangkan tahap terakhir, berupa tahap evaluasi
(evaluation). Tahap ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
melakukan penilaian terhadap suatu objek.
KEKUASAAN
Menurut Joko
Santoso (2006), dalam negara otoritarian, kekuasaan lebih terasa dari sisi “kelam”
nya, karena kekuasaan adalah alat untuk “memaksa orang lain agar mengikuti
kehendak pemegang kekuasaan”. Tujuan kekuasaan adalah mempertahankan kekuasaan
itu sendiri. Dalam negara demokratis, kekuasaan adalah amanah dari rakyat yang
diberikan kepada sejumlah orang terpilih untuk mengurus rakyat dengan
sebaik-baiknya, melindunginya, dan meningkatkan taraf hidupnya.
Menurut Tilaar (2005) proses melaksanakan kekuasaan berarti
proses menguasai. Artinya, ada yang melaksanakan kuasa (penguasa) dan ada yang
dikuasai atau menjadi objek penguasa. Disini terjadi hubungan subordinatif
antara penguasa dan yang di kuasai. Dengan demikian dapat terjadi perampasan
kebebasan individu atau mengikat kebebasan individu kepada suatu otoritas atau
sumber kekuasaan di luar dirinya sendiri.
Jenis kekuasaan
1. kekuasaan yang transformasi
2. kekuasaan yang berfungsi sebagai transmitif
Didalam proses kekuasaan sebagai transmitif terjadi proses
transmisi yang diinginkan oleh subjek yang memegang kekuasaan terhadap subjek
yang terkena kekuasaan itu sendiri. Dengan demikian yang terjadi dalam roses
pelaksanaan kekuasaan adalahsuatu aksi dari subjek yang bersifat robotic karena
sekedar menerima atau di tuangkan sesuatu ke dalam bejana subjek yang
bersangkutan.
Berhubungan erat
dengan masalah kekuasaan ialah pengaruh sehingga sering dikatakan bahwa
pengaruh bentuk lunak dari kekuasaan. Dalam hal ini biasanya seseorang yang
mempunyai kekuasaan juga mempunyai pengaruh di luar bidang kekuasaannya.
Daftar Pustaka
Budiharsono.(2001).Politik komunikasi.Jakarta:Grasindo
Gren.(2003).Perilaku Manusia dan Faktor.Jakarta:Gramedia.
Griffin,
R.(2002).Sumber Daya Manajemen.Jakarta:Gramedia
Notoadmojo,S.(1993). Pengantar
Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan
Culural.Yogyakarta:PT Andi Offset
Santoso, Joko.(2006).Jalan Tikus Menuju Kekuasaan.Jakarta:Gramedia
Pustaka Utama
Sarwono,
Sarlito Wirawan.(1995).Komunikasi Menurut
Pakar.Jakarta:Grasindo
Tilaar.(2005).Kekuasaan dan Pendidikan: suatu tinjauan dari
perspektif studi.Jakarta:Gramedia
Warsinah,
D.(2008).Tahapan Faktor Perilaku.Jakarta:Leksika