Kamis, 29 Oktober 2015

Sejarah dan Definisi Psikologi Manajemen: Komunikasi, Mempengaruhi Perilaku, dan Kekuasaan

Pada awalnya psikologi manajemen merupakan dua bidang ilmu yang terpisah, yaitu psikologi dan manajemen. Untuk menjamin kesuksesan suatu organisasi diperlukan pemahaman yang baik terhadap teori manajemen guna mendorong efektivitas dan efisiensi kerja atau profesionalisme manajemen. Perkembangan awal teori manajemen adalah tokoh Robert Owen dan Charles Babbage. Awalnya konsep manajemen digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, kemudian timbul pemikiran bahwa akal manusia dapat memenuhi kebutuhan itu secara lebih efektif lagi, setelah itu dibutuhkan modal untuk mendanai alat yang akan membantu dalam meningkatkan efektifitas.

Robert Owen (1771-1858) sebagai manajer pabrik di New Lanark, Skotlandia memberikan pemikiran bahwa unsur manusia penting dalam suatu produksi. Sehingga memperbaiki kondisi kerja yang meliputi hari kerja standar, usia kerja, perumahan karyawan, dan mengoperasikan toko perusahaan dengan harga jual barang yang murah.

Charles Babbage (1782-1871) menganjurkan prinsip pembagian kerja melalui alat hitung (kalkulator) mekanis pertama, mengembangkan program permainan untuk komputer, pembagian keuntungan, kerjasama yang menguntungkan dalam manajemen.

Teori organisasi klasik memberikan pemikiran untuk pedoman pengelolaan organisasi. Setelah itu hubungan manusiawi melengkapi teori organisasi klasik dari pandangan sosiologi dan psikologi. Sejak zaman revolusi industri tiga modal kerja yang utama adalah Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), dan Sumber Daya Uang (SDU), dan ilmu manajemen berkisar pada upaya untuk mengoptimalkan kinerja antar ketiga modal kerja tersebut. Dengan di temukan dan dikembangkannya ilmu psikologi diketahui bahwa unsur Sumber Daya Manusia ternyata merupakan yang terpenting, yang mampu mengintervensi atau mengolah berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.

Manajemen ilmiah lebih memikirkan cara untuk meningkatkan produktivitas dari pabrik dan pekerja. Aliran manajemen modern mempermudah manajer dalam melaksanakan manajemen melalui pendekatan perilaku organisasi dan riset operasi.

Menurut Ricky W. Griffin (2002) mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

KOMUNIKASI

Secara harafiah, komunikasi berasal dari Bahasa Latin: COMMUNIS yang berarti keadaan yang biasa, membagi. Dengan kata lain, komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat dipahami. Data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan).
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerima, yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang bersifat fakta yang digunakan untuk mengambil kesimpulan. Dalam suatu organisasi biasanya selalu menekankan bagaimana pentingnya sebuah komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala kemungkinan kesalahpahaman yang bisa saja terjadi.
Berikut ini adalah definisi komunikasi menurut Sarwono, Sarlito  Wirawan (1995). serta penjelasan mengenai komunikasi menurut beberapa ahli lainnya:
1. Palo Alto
Ketika dua orang sedang bersama, mereka berkomunikasi secara terus menerus karena mereka tidak dapat berperilaku. Palo Alto sangat percaya bahwa seseorang tidak dapat tidak berkomunikasi.
2. Himstreet & Baty
Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyak-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.
3. Bovee
Komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan.
4. Lasweel
Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakn apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.
5. Carl I. Hovland
Komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulan biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.


MEMPENGARUHI PERILAKU

Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku manusia
1. Sikap, adalah suatu ukuran tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu.
2. Norma sosial, adalah pengaruh tekanan sosial.
3.Kontrol perilaku pribadi, adalah kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku.

Sedangkan menurut Green (2003) faktor perilaku dibentuk oleh tiga faktor utama yaitu :
  • Faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.
  • Faktor pemungkin (enabling factors), yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan, prasarana dan sarana serta sumber daya.
  • Faktor pendorong atau penguat (reinforcing factors), faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku misalnya dengan adanya contoh dari para tokoh masyarakat yang menjadi panutan.
Menurut Della Warsinah (2008) terdapat tahapan-tahapan dari individu yang bisa mempengaruhi faktor perilaku
Pada tahap pertama, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah pengetahuan (knowledge). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Komponen kognitif merupakan representasi yang dipercaya oleh individu. Komponen kognitif berisi persepsi dan kepercayaan yang dimiliki individu mengenai sesuatu kepercayaan datang dari yang telah dilihat, kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek.
Tahap kedua adalah tahap memahami (comprehension), merupakan tahap memahami suatu objek bukan sekedar tahu atau dapat menyebutkan, tetapi juga dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek.
Tahap selanjutnya, tahap ketiga, tahap aplikasi (application), yaitu jika orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat mengaplikasikan prinsip yang diketahui pada situasi yang lain.
Sedangkan tahap ke empat merupakan tahap analisis (analysis), merupakan kemampuan seseorang menjabarkan dan atau memisahkan. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang sudah sampai pada tingkat analisis jika dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram pada pengetahuan atas objek tersebut.
Tahap ke lima adalah sintesis (synthesis). Tahap ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk merangkum suatu hubungan logis dari komponen ­komponen pengetahuan yang dimiliki. Sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru. Sedangkan tahap terakhir, berupa tahap evaluasi (evaluation). Tahap ini  berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek.
KEKUASAAN

Menurut Joko Santoso (2006), dalam negara otoritarian, kekuasaan lebih terasa dari sisi “kelam” nya, karena kekuasaan adalah alat untuk “memaksa orang lain agar mengikuti kehendak pemegang kekuasaan”. Tujuan kekuasaan adalah mempertahankan kekuasaan itu sendiri. Dalam negara demokratis, kekuasaan adalah amanah dari rakyat yang diberikan kepada sejumlah orang terpilih untuk mengurus rakyat dengan sebaik-baiknya, melindunginya, dan meningkatkan taraf hidupnya.

Menurut Tilaar (2005) proses melaksanakan kekuasaan berarti proses menguasai. Artinya, ada yang melaksanakan kuasa (penguasa) dan ada yang dikuasai atau menjadi objek penguasa. Disini terjadi hubungan subordinatif antara penguasa dan yang di kuasai. Dengan demikian dapat terjadi perampasan kebebasan individu atau mengikat kebebasan individu kepada suatu otoritas atau sumber kekuasaan di luar dirinya sendiri.
Jenis kekuasaan
1. kekuasaan yang transformasi
2. kekuasaan yang berfungsi sebagai transmitif

Didalam proses kekuasaan sebagai transmitif terjadi proses transmisi yang diinginkan oleh subjek yang memegang kekuasaan terhadap subjek yang terkena kekuasaan itu sendiri. Dengan demikian yang terjadi dalam roses pelaksanaan kekuasaan adalahsuatu aksi dari subjek yang bersifat robotic karena sekedar menerima atau di tuangkan sesuatu ke dalam bejana subjek yang bersangkutan.

Berhubungan erat dengan masalah kekuasaan ialah pengaruh sehingga sering dikatakan bahwa pengaruh bentuk lunak dari kekuasaan. Dalam hal ini biasanya seseorang yang mempunyai kekuasaan juga mempunyai pengaruh di luar bidang kekuasaannya.



Daftar Pustaka

Budiharsono.(2001).Politik komunikasi.Jakarta:Grasindo
Gren.(2003).Perilaku Manusia dan Faktor.Jakarta:Gramedia.
Griffin, R.(2002).Sumber Daya Manajemen.Jakarta:Gramedia
Notoadmojo,S.(1993). Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan
Culural.Yogyakarta:PT Andi Offset
Santoso, Joko.(2006).Jalan Tikus Menuju Kekuasaan.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
Sarwono, Sarlito Wirawan.(1995).Komunikasi Menurut Pakar.Jakarta:Grasindo

Tilaar.(2005).Kekuasaan dan Pendidikan: suatu tinjauan dari perspektif studi.Jakarta:Gramedia


Warsinah, D.(2008).Tahapan Faktor Perilaku.Jakarta:Leksika

Senin, 30 Maret 2015

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental dan Konsep Sehat


Nama: Puja Barisman Putro
Kelas: 2PA05
NPM: 16513941

Latar Belakang

Penyakit merupakan suatu fenomena kompleks yang dapat berpengaruh negatif terhadap kehidupan manusia. Perilaku dan cara hidup manusia dapat merupakan penyebab bermacam-macam penyakit baik di zaman primitif maupun modern. Bila di tinjau dari segi biologis, penyakit merupakan kelainan berbagai organ tubuh manusia, sedangkan dari segi kemasyarakatan keadaan sakit dianggap sebagai penyimpangan perilaku dari keadaan sosial yang normatif. Penyimpangan tersebut dapat disebabkan oleh kelainan biomedis organ tubuh atau lingkungan manusia, tetapi juga dapat disebabkan oleh kelainan emosional dan psikososial individu yang bersangkutan. Faktor emosional ini pada dasarnya merupakan akibat dari lingkungan hidup atau ekosistem manusia dan adat kebiasaan atau kebudayaan.

Konsep kejadian penyakit menurut ilmu kesehatan bergantung jenis penyakitnya. Secara umum konsepsi ini ditentukan oleh berbagai faktor antara lain yaitu parasit, faktor manusia dan lingkungan sekitar. Penyakit dapat dipandang sebagai suatu unsur dalam lingkungan manusia, yaitu seperti tampak pada ciri sel-sabit (sickle-cell). Di kalangan penduduk Afrika Barat, suatu perubahan evolusi yang adaptif yang memberikan imunitas relatif terhadap malaria. Ciri sel-sabit sama sekali bukan merupakan karakteristik yang diinginkan karena memberikan proteksi yang tinggi terhadap gigitan nyamuk Anopheles. Bagi sebagian masyarakat Dani di Papua, penyakit merupakan symbol sosial yang positif, yang diberi nilai-nilai tertentu.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental 

Tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental kita dapat memahami bahwa gangguan mental telah terjadi sejak awal peradaban manusia lahir dan sekaligus telah ada upaya untuk mengatasi nya sejalan dengan peradaban. Dengan pesat nya perkembangan kebudayaan, teknologi, dan ilmu pengetahuan mempengaruhi cara-cara manusia untuk mengatasi masalah non jasmaniah atau mental yang semakin lama tumbuh menjadi ilmu pengetahuan sendiri. Tentu saja manusia berusaha untuk menyembuhkan penyakit nya itu dengan cara rasional maupun irasional. Misalnya dengan meminta nasehat kepada orang tua, orang yang dituakan atau dianggap bijak. Dengan cara yang irasional yaitu dengan pergi ke dukun-dukun atau melakukan penyembuhan terhadap benda-benda yang dianggap keramat atau sakti.

Masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang mudah dapat diamati dan terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relative mudah di deteksi, hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa dan bukan gangguan.
Masa atau zaman prasejarah adalah masa dimana manusia purba sering sekali mengalami gangguan mental atau fisik seperti infeksi, arthritis, dll

Zaman peradaban awal
1. Phytagoras (orang yang pertama kali memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental).
2. Hypocrates (ia berpendapat penyakit atau gangguan otak adalah salah satu penyebab penyakit mental)
3. Plato (gangguan mental sebagai gangguan moral, fisik)
4. dll

Zaman pra-ilmiah

Seperti juga psikologi yang mempelajari hidup kejiwaan manusia, dan memiliki usia sejak adanya manusia di dunia, maka masalah kesehatan jiwa itupun telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk pengetahuan yang sederhana. orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini.
1.Animisme
Sejak zaman dulu gangguan mental telah muncul dalam konsep primitif, yaitu kepercayaan terhadap faham animisme bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang Yunani kuno percaya bahwa orang mengalami gangguan mental, karena dewa marah kepadanya dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dan kurban.

2.Naturalisme
Suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam. Hipocrates (460-367) menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia mengatakan, Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan mencium bau amis. Tapi anda tidak akan melihat roh, dewa, atau hantu yang melukai badan anda.

Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental.
Philippe Pinel terpilih menjadi kepala rumah sakit jiwa Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini pasiennya di rantai, di ikat ke tembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya diantara mereka banyak yang berhasil sembuh dan mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai diri nya sendiri.

Masa atau zaman ilmiah
Masa dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa. Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.

Pada tahun 1908 terbit sebuah buku yang sangat terkenal dengan judul “A Mind That Found It Self”. Buku tersebut dikarang oleh Clifford Whittingham Beers. Buku itu menceritakan pengalaman-pengalamannya saat dirawat dibeberapa rumah sakit. Ia mendapatkan perawatan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan pada pasien dengan gangguan jiwa, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Perawatan yang tulus dan penuh kasih justru memberikan dampak yang positif bagi penderita gangguan jiwa. 
Dari pengalamannya yang tidak menyenangkan selama dirawat itulah, ia menyatakan bahwa keramah tamahan yang ditunjukkan kepadanya justru memberikan dampak penyembuhan yang besar bagi dirinya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Clifford Wittingham Beers memberikan beberapa saran dalam usaha pencegahan terjadinya gangguan mental dan perawatannya:
- Pembaruan dalam perawatan penderita
- Menyebarluaskan informasi untuk merubah sikap terhadap pasien gangguan jiwa supaya lebih tepat dan manusiawi serta agar orang mau bersikap lebih intelegent.
- Mendorong diadakannya penelitian terhadap sebab-sebab timbulnya penyakit dan perawatan terhadap sakit mental serta mengembangkan terapi penyembuhan.
- Mengembangkan usaha-usaha untuk mencegah gangguan mental dan gangguan-gangguan emosi.

William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Karena jasa nya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.

Gerakan mental Hygiene terus berkembang hingga tahun 1975 di Amerika yang terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation for Mental Health dan The World Health Organization.
Dewasa ini perhatian orang-orang terhadap kesehatan mental semakin besar. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya fasilitas kesehatan bagi para penderita gangguan mental, keluarga yang memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan mental pun sudah tidak merasa malu untuk membawa berobat, di masa lalu anggota keluarga yang mengalami gangguan mental dikucilkan bahkan ada pula yang dipasung.
Demikian pula disekolah tidak lepas dari pengaruh kesehatan mental. Para pendidik semakin menyadari perlunya pengetrapan prinsip-prinsip kesehatan mental untuk tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Justru sekolah yang mempunyai peranan besar dalam “membentuk” manusia-manusia yang sehat badan dan jiwanya.

Konsep Sehat
Keadaan berperilaku yang baik atau sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup beraktifitas dan berproduktif secara sosial dan ekonomis dalam lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Seseorang harus peduli pada keadaan dirinya mulai dari pengetahuan kesehatannya.
Konsep sehat itu terdiri dari 5 dimensi yaitu fisik, emosi, social, spiritual, dan intelektual.
1. Kesehatan fisik adalah suatu keadaan dimana bentuk fisik dan fungsinya tidak ada gangguan sehingga memungkinkan perkembangan psikologis dan social dapat melakukan kegiatan sehari-hari dalam kondisi yang baik atau optimal.
2. Kesehatan emosi adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami reaksi tubuh dalam menghadapi situasi tertentu.
3. Kesehatan social adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sekitarnya, sehingga mampu untuk hidup bersama dengan masyarakat lingkungannya.
4. Kesehatan spiritual adalah suatu dimana seseorang memiliki kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi.
5. Kesehatan intelektual adalah suatu dimana seseorang mampu mengendalikan kecerdasannya untuk berfikir, berfikir baik maupun buruk.
Seseorang harus mengetahui bagaimana memelihara kesehatannya, seperti pengetahuan tentang penyakit menular, pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait kesehatan, dan apa saja yang memengaruhi kesehatan, pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan. Setiap orang juga diharapkan dapat memelihara kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait dalam kesehatan.
Sehat adalah kondisi normal seseorang yang merupakan hak hidupnya, sehat juga berhubungan dengan hukum alam yang mengatur tubuh, jiwa, dan lingkungan berupa udara segar, sinar matahari, diet seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan serta pikiran, kebiasaan dan gaya hidup yang baik. Meskipun terdapat banyak pengertian atau definisi, konsep sehat adalah tidak standart atau baku serta tiadak dapat diterima secara mutlak dan umum. Apa yang dianggap normal oleh seseorang tersebut masih mungkin di nilai abnormal oleh orang lain, dan masing-masing orang, kelompok, atau masyarakatpun memiliki patokan dalam mengartikan arti dari sehat tersebut.

Sumber Referensi
Brennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT.Raja Grafindo
Moeljono, Notosoerdirdjo. 2002. Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan.
Malang: Universitas Muhammadiyah Malang
Baihaqi, MIF. 2008. Psikologi Pertumbuhan, Kepribadian Sehat Untuk Mengembangkan Optimisme. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Andi Yogyakarta
http://psikologi.or.id/psikologi-klinis/sejarah-perkembangan-mental.html
http://blog.sehatmedia.com/2014/03/definisi-sehat-komponen-definisi-sehat.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-kesehatan/


Selasa, 17 Maret 2015

Konsep Sehat Menurut Aliran Humanistik

Nama: Puja Barisman Putro

Kelas: 2PA05





Konsep sehat menurut:

Aliran Humanistik (Abraham Maslow)



Humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan  besar psikologi dalam tahun 1950-an. Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force) karena humanistik muncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa.

Psikologi humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Tokoh-tokoh Psikologi Humanistik memandang behavorisme mendehumanisasi manusia. Psikologi Humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut Psikologi Humanistik manusia adalah makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.

Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.

Ciri dari kepribadian sehat adalah mengaktualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri dan mengatualisasikan diri.



Analisis Tokoh (Abraham Maslow)

Abraham Maslow merupakan salah satu sosok yang sangat berpengaruh dalam bidang ilmu psikologi. Dia merupakan bapak dari psikologi humanistik. Menurut ajaran Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusian.  Maslow memfokuskan penelitiannya pada manusia dengan segala ciri-ciri eksistensinya.

Menurut Maslow, terdapat empat ciri psikologi yang berorientasi humanistik, yaitu:

A. Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari.

B. Lebih memusatkan perhatian kepada individu yang mengalaminya, karena berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer.

C. Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai-nilai yang tinggi pada martabat manusia itu sendiri.

D. Memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang khas dari manusia (contohnya yaitu kreativitas, dan aktualisasi diri)

Selain empat ciri psikologi yang berorientasi humanisti diatas, terdapat pula orang yang sehat secara psikologis yaitu orang yang kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi seperti kebutuhan fisiologis (the physiological needs), kebutuhan rasa aman (the safety needs/ the security needs), kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan penghargaan diri, dll.





Sumber Referensi


Lindzey, gardner.1993.Teori – Teori Psikodinamik.Yogyakarta: Penerbit Kanisius

http://more23dy.blogspot.com/2014/03/kesehatan-mental-konsep-sehat-sejarah.html

http://ssitirohani.blogspot.com/2014/03/kesehatan-mental-konsep-sehat-sejarah.html

Schultz, Duane.1989. Pendekatan Psikologi Humanistik.Yogyakarta: Penerbit Kanisius

http://repastrepost.bogspot.in/2013/04/v-behaviorurldefaultvmlo