Senin, 09 Desember 2013

Hubungan Kegelisahan dengan Pengharapan

 Nama: Puja Barisman Putro
NPM: 16513941
Kelas: 1PA02

KEGELISAHAN DAN HARAPAN
Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”. Gelisah artinya rasa yang tidak tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi (menanti), cemas, dan sebagainya. Kegelisahan arti nya perasaan-perasaan, khawatir, cemas atau takut
Kegelisahan ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut. Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisah. Kegelisahan ini apabila cukup lama hinggap pada manusia akan menyebabkan suatu gangguan penyakit. Kegelisahan (ancienty) yang cukup lama akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia. Kegelisahan selalu menunjukan kepada suasana negatif atau ketidak sempurnaan, tetapi mempunyai harapan
Dikatakan negatif atau ketidaksempurnaan karena menyentuh nilai- nilai kemanusiaan yang menimbulkan kerugian. Kegelisahan menunjukan kepada suasana positif dan optimis karena masih ada harapan bebas dari kegelisahan, yang mendorong manusia mencari kesempurnaan dan mendorong manusia supaya kreatif. Tragedi dunia modern tidak sedikit menyebabkan kegelisahan. Hal ini mungkin akibat kebutuhan hidup yang meningkat rasa individualistis dan egoisme, persaingan dalam hidup, kadaan yang tidak stabil, dan seterusnya.
Kegelisahan dalam konteks budaya dapatlah di katakan sebagai akibat adanya insting manusia untuk berbudaya, yaitu sebagai upaya mencari “kesempurnaan“. atau, dari segi batin manusia,gelisah sebagai akibat dosa pada hati manusia. Dan tidak jarang akibat kegelisahan seseorang, sekaligus membuat orang lain menjadi korbannya. Penyebab kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan untuk membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan. Kehidupan ini yang menyebabkan mereka gelisah. Mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti. Orang yang tidak mempunyai dasar dalam menjalankan tugas (hidup), sering di timpa kegelisahan Kegelisahan yang demikian sifatnya abstrak sehingga disebut kegelisahan murni, yaitu merasa gelisah tanpa mengetahui apa kegelisahannya, seolah-olah tanpa sebab.
            Ini berbeda dengan kegelisahan “terapan” yang terjadi dalam peristiwa kehidupansehari-hari, seperti kegelisahan karena anaknya sampaimalam belum pulang, orang tua yang sakit keras, istrinya yang sedang melahirkan, diasingkan oleh orang-orang sekitarnya, melakukan perbuatan dosa yang ditentang nuraninya, dan sebagainya. Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia. Persaan seseorang yang sedang gelisah, ialah hatinya tidak tenteram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik dan sebagainya.
Perasaan cemas menurut Sigmund Freud ada tiga macam, yaitu:
1. Kecemasan obyektif, kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti anaknya yang belum pulang, orang tua yang sedang sakit keras, dan sebagainya.
2.Kecemasan neurotik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya darinaluri. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasa takut yang irasional semacam fobia, rasa gugup, dan sebagainya.
3.Kecemasan moral. Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki, dendam, hasud, marah, rendah diri, dan sebagainya.
Uraian tentang penderitaan disini di analogikan dengan perasaan gelisah (kegelisahan hati) sebagai akibat kecemasan moral.Untuk mengatasi kegelisahan ini (dalam ajaran islam),manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, dan amal shaleh. Seperti difirmankan : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila di tempa kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila ia mendapatkan kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, mereka yang tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya.’’ Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia sebagaimana di perintahkan oleh Tuhan sendiri. Tentang kecemasan ini Sigmund Freud membedakan menjadi tiga macam : kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neurotic, dan kecemasan moral.
Harapan
Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berdoa atau berusaha.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa esensi harapan berbeda dengan "berpikir positif" yang merupakan salah satu cara terapi/ proses sistematis dalam psikologi untuk menangkal "pikiran negatif" atau "berpikir pesimis".
Kalimat lain "harapan palsu" adalah kondisi dimana harapan dianggap tidak memiliki dasar kuat atau berdasarkan khayalan serta kesempatan harapan tersebut menjadi nyata sangatlah kecil.

Contoh hubungan antara kegelisahan dan pengharapan:
ada sepasang suami-istri yang sedang mengalami masa-masa menyenangkan sekaligus ketegangan. Di mana sang istri sedang mengandung anak nya yang pertama. Di situasi yang tidak memungkinkan, sang istri tiba-tiba merasakan perut nya yang sangat kesakitan. Dengan rasa panik yang di alami nya, lalu sang ayah langsung membawa istri nya ke rumah sakit.
            Setiba nya di rumah sakit, ayah tersebut langsung memanggil para suster. Dengan terburu-buru, beberapa suster segera membawa kursi roda. Lalu istri tersebut di bawa ke ruang persalinan untuk melakukan pengecekkan kandungan. Ternyata, sang istri positif akan melahirkan di hari itu juga.
            Sang suami tidak mengetahui bagaimana kondisi yang di alami istri nya itu. Dengan rasa gelisah, sang suami hanya bisa berharap dan berdoa semoga dalam proses kelahiran berjalan dengan lancar tanpa ada masalah. Ketika dokter sedang meng operasi sang istri, tiba-tiba mengalami masalah yang besar ketika ingin mengeluarkan bayi tersebut dari sang istri. Masalah tersebut yaitu, dokter tidak bisa memutuskan mana yang bisa di selamatkan.  Lalu di panggil nya sang ayah untuk menemui dokter. Dokter menjelaskan “bapak, bayi yang terdapat di kandungan istri tidak bisa di selamatkan. Jika ingin di selamatkan, maka bapak harus merelakan ibu atau anak bapak yang ingin di selamatkan.” Dengan perasaan yang bingung, ayah tersebut lalu memutuskan istri nya saja yang selamat. Maka dengan keputusan yang berat itu, sang dokter langsung melanjutkan melakukan operasi.
            Akhirnya sang istri berhasil di selamatkan, sementara bayi yang terdapat di kandungan ibu nya itu terpaksa di gugurkan atau tidak bisa di selamatkan.
Tanggapan:
Menurut pendapat saya, dengan kejadian yang di alami oleh pasangan suami istri tersebut perlu kita sadari memang sangat berat memutuskan suatu pilihan. Kita hanya bisa berharap dan berdoa apa pun yang akan terjadi. Karena kegelisahan itu merupakan hal yang alami yang di miliki oleh manusia. Dengan berharap semoga pilihan yang di ambil merupakan pilihan yang terbaik dalam memutuskan suatu pilihan dalam hidup.
Daftar Pustaka

1 komentar: